Mengutip data perdagangan, SS membeli bersih (net buy) saham DSSA sebanyak 20,6 juta lot dengan valuasi mencapai Rp1,1 triliun selama satu tahun terakhir.
Adapun, sebagian saham SS dipegang oleh PT Asha Artha Sehati, kendaraan investasi milik Pandu.
Lewat Asha Artha, Pandu Sjahrir menguasai 27,5% saham Supra Sekuritas, broker yang beberapa tahun terakhir aktif mengakumulasi saham-saham dengan valuasi premium, termasuk DSSA.
Sementara itu, mayoritas saham Supra Sekuritas dipegang oleh PT Ascend Bangun Persada sebanyak 72,5%.
“Status kepemilikan saham saya harus dibedakan dengan tanggung jawab atas tindakan perusahaan,” kata Pandu .
Di sisi lain, dia menilai positif temuan dan sanksi yang telah diumumkan OJK terkait dengan manipulasi harga saham yang belakangan ikut menyeret Supra Sekuritas.
“Sudah selayaknya ditangani oleh perusahaan melalui proses regulasi yang berlaku,” tuturnya.
Selain itu, SS turut mengakumulasi saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang belakangan ikut disanksi OJK. CUAN merupakan perusahaan tambang yang dikendalikan konglomerat Prajogo Pangestu.
Supra Sekuritas mengakumulasi saham CUAN sebanyak 5,9 juta lot selama satu tahun terakhir dengan valuasi bersih Rp786,5 miliar. Harga rata-rata perolehan Supra Sekuritas selama periode itu sekitar Rp1.329 per saham.
Adapun, broker afiliasi Pandu Sjahrir itu tetap mengakumulasi saham CUAN sebanyak 6 juta lot year-to-date dengan valuasi Rp808,1 miliar. Rata-rata perolehan SS sekitar Rp1.328 per saham sepanjang tahun ini.
Perhatian MSCI
Mengutip Bloomberg News, pengungkapan yang sebelumnya belum pernah dilaporkan ini berisiko mempersulit upaya Indonesia untuk memulihkan kepercayaan MSCI yang berbasis di New York dan mencegah arus keluar modal hingga miliaran dolar.
Indeks saham acuan Indonesia telah turun sekitar 10% sejak penyedia indeks tersebut mengeluarkan peringatan pada 15 Oktober, menjadikannya sebagai indeks dengan kinerja terburuk di Asia.
MSCI berulang kali menyampaikan kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan saham yang tidak transparan dan potensi perdagangan terkoordinasi di salah satu pasar saham terbesar di Asia Tenggara.
MSCI juga mendesak otoritas untuk memperkuat regulasi, pengawasan, dan penegakan hukum. Sebagai salah satu petinggi Danantara, yang berada di bawah Presiden Prabowo Subianto, Pandu telah mempromosikan Indonesia kepada para investor dalam berbagai forum global di sejumlah kota, seperti Washington, Davos, dan Tokyo.
“Pandu semakin menjadi representasi Indonesia di mata komunitas investasi internasional,” kata Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), lembaga kajian yang berbasis di Jakarta.
Juru bicara Pandu mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa Pandu merupakan pemegang saham minoritas Supra Sekuritas dalam kapasitas pribadinya. Juru bicara tersebut menegaskan bahwa investasi itu bersifat pasif.
Pandu tidak pernah menjabat di “direksi, dewan komisaris, maupun manajemen perusahaan, serta tidak memiliki peran dalam operasional sehari-hari, aktivitas perdagangan, ataupun keputusan kepatuhan perusahaan,” kata juru bicara tersebut.
“Kepemilikan sahamnya tidak boleh disamakan dengan tanggung jawab atas tindakan perusahaan.”
Pandu sepenuhnya menghormati OJK dan “mendukung penegakan peraturan pasar modal yang kuat dan adil,” kata juru bicara tersebut.
Dia menambahkan bahwa Pandu “tetap berkomitmen untuk mendukung transparansi, tata kelola yang baik, dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.”
Dalam beberapa bulan terakhir, MSCI secara tertutup telah menyampaikan kepada sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Pandu, bahwa berbagai persoalan di pasar modal Indonesia belum terselesaikan, menurut orang-orang yang mengetahui persoalan tersebut.
Pandu secara terbuka mendukung pengawasan yang dilakukan MSCI, dengan menyebut peringatan lembaga tersebut sebagai peringatan keras yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki likuiditas dan transparansi pasar saham Indonesia.
Lulusan Stanford Graduate School of Business tersebut memperkirakan bahwa penurunan status Indonesia menjadi frontier market saja dapat memicu arus keluar modal sebesar US$25 miliar hingga US$50 miliar.
Pandu bertemu dengan CEO MSCI Henry Fernandez pada akhir September di New York dan meminta rekomendasi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan Indonesia untuk menghindari reklasifikasi status pasar, menurut orang-orang yang mengetahui pertemuan tersebut.
Pada 13 Oktober, Pandu menghadiri acara yang diselenggarakan Danantara di sela-sela pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, yang juga dihadiri MSCI.
“Pandu sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan MSCI dan menyatakan dukungannya terhadap reformasi sektor keuangan Indonesia,” kata juru bicaranya. “Dia meyakini bahwa transparansi dan tata kelola yang baik sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor.”
OJK tidak secara khusus menyebut pemilik Supra Sekuritas ketika mengumumkan sanksi, dan Pandu sendiri tidak dituduh melakukan pelanggaran apa pun. Regulator tersebut, yang tidak mengungkapkan nama-nama pihak terkait, menyatakan telah menjatuhkan denda total sebesar Rp2,1 triliun (US$117 juta) kepada tiga perusahaan.
OJK juga mengenakan sanksi finansial dengan nilai yang tidak dirinci kepada perusahaan-perusahaan sekuritas lain yang terlibat, serta menjatuhkan sanksi kepada sejumlah individu di perusahaan tersebut.
(naw)



























