Logo Bloomberg Technoz

Komitmen itu diperkuat melalui kesepakatan bersama atau joint commitment yang dibacakan Emma dalam sesi roundtable meeting. Kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi perusahaan energi nasional anggota ASCOPE untuk memperluas koordinasi dan mengembangkan inisiatif bersama.

Ruang lingkup kesepakatan mencakup pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi, penguatan konektivitas rantai pasok gas regional, inovasi energi bersih dan berkelanjutan, serta pengurangan emisi metana.

Selain itu, para anggota ASCOPE juga berkomitmen mendorong pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) serta carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Perluasan kemitraan strategis dan kolaborasi bisnis antaranggota maupun dengan mitra strategis turut menjadi bagian dari agenda tersebut.

ASCOPE Dorong Teknologi dan Ketahanan Energi Regional

Keterlibatan berbagai organisasi dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperkuat implementasi agenda energi kawasan. Society of Petroleum Engineers (SPE), organisasi profesional di bidang perminyakan, turut memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan kolaborasi tersebut.

Simon Seaton, yang hadir mewakili SPE, menyampaikan antusiasmenya atas keterlibatan perdana organisasinya dalam forum ASCOPE. Menurut dia, pertumbuhan jumlah pakar perminyakan di kawasan ASEAN membuka peluang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengembangan teknologi energi.

“Kita perlu mencari cara untuk mengembangkan produksi minyak dan gas secara lebih efisien, mempelajari teknologi CCS/CCUS untuk mengekstraksi lebih banyak gas, serta memanfaatkan teknologi dan keilmuan baru guna mendukung ketahanan dan transisi energi,” ujar Simon.

(Dok. Pertamina)

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pemanfaatan inovasi untuk meningkatkan efisiensi produksi migas sekaligus mendukung transisi energi. Pengembangan teknologi CCS dan CCUS juga menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk membantu mengelola emisi dari aktivitas industri energi.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, penguatan kemampuan teknis dan pertukaran keahlian antarnegara menjadi semakin relevan. Negara-negara ASEAN menghadapi tantangan untuk menjaga pasokan energi tetap andal, sembari memperhitungkan aspek lingkungan dan keberlanjutan dalam pengembangan sektor energi.

Managing Director Otoritas Pengawas dan Regulasi Minyak dan Gas Brunei Darussalam Shamir Salahudin juga menekankan urgensi kolaborasi lintas negara. Menurut dia, berbagai gangguan geopolitik yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa ketahanan energi tidak dapat dibangun hanya melalui upaya masing-masing negara.

“Sangat penting bagi negara-negara ASEAN dan perusahaan minyak nasional untuk saling merangkul dan berkolaborasi demi memastikan ketahanan energi di kawasan ini,” ungkap Shamir.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda ASCOPE untuk memperkuat koordinasi antarperusahaan energi nasional. Melalui kerja sama yang lebih erat, negara-negara kawasan diharapkan dapat meningkatkan kesiapan menghadapi gangguan pasokan, perubahan harga energi, dan tantangan lain yang berpotensi memengaruhi stabilitas sektor energi.

Bagi Pertamina, kolaborasi regional juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perubahan industri energi. Kesepakatan yang dihasilkan dalam forum tersebut mencakup pengembangan bisnis, peningkatan konektivitas pasokan, serta penerapan teknologi yang mendukung ketahanan energi jangka panjang.

Pertamina Perluas Implementasi Transisi Energi di Desa

Komitmen Pertamina terhadap keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pembahasan kebijakan dan kerja sama industri. Dalam rangkaian kegiatan ASCOPE ke-51, perusahaan juga memperkenalkan praktik transisi energi berbasis komunitas kepada para delegasi.

Pertamina mengajak para peserta mengunjungi Desa Uma Palak di Denpasar Utara, Bali. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi delegasi untuk melihat langsung implementasi program Desa Energi Berdikari (DEB).

Program DEB merupakan inisiatif Pertamina yang mendorong pengembangan kemandirian energi masyarakat melalui pemanfaatan potensi dan sumber daya lokal. Pendekatan berbasis komunitas tersebut memperlihatkan bagaimana agenda keberlanjutan dapat diterapkan di tingkat desa.

Melalui kunjungan itu, para delegasi diperkenalkan pada praktik yang menghubungkan ketahanan energi dengan ketahanan pangan. Keduanya menjadi aspek penting dalam mendorong kemandirian masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut juga memperluas perspektif mengenai transisi energi. Selain membutuhkan kebijakan dan investasi berskala besar, transisi energi memerlukan keterlibatan masyarakat serta pengembangan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah setempat.

Pertamina memandang inisiatif berbasis komunitas sebagai salah satu wujud implementasi komitmen keberlanjutan yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dalam forum yang mempertemukan pelaku industri energi dari berbagai negara.

Penyelenggaraan ASCOPE ke-51 dengan demikian tidak hanya menjadi ruang untuk membahas tantangan energi regional, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat kemitraan strategis dan berbagi praktik keberlanjutan. Kolaborasi antara perusahaan energi, regulator, organisasi profesional, dan masyarakat diharapkan dapat mendukung ketahanan energi ASEAN di tengah perubahan global.

Melalui penguatan kerja sama tersebut, Pertamina mendorong agar negara-negara kawasan dapat merespons tantangan energi secara lebih terkoordinasi. Upaya ini mencakup pengembangan sumber energi, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi rendah karbon, dan penguatan kemandirian energi hingga tingkat komunitas.

(tim)

No more pages