PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Kurs e-Rate: beli Rp18.103/US$, jual Rp18.123/US$
Kurs TT Counter: beli Rp17.920/US$, jual Rp18.200/US$
Kurs Bank Notes: beli Rp17.920/US$, jual Rp18.200/US$
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
Kurs Special Rates: beli Rp18.095/US$, jual Rp18.135/US$
Kurs TT Counter: beli Rp17.945/US$, jual Rp18.245/US$
Kurs Bank Notes: beli Rp17.980/US$, jual Rp18.280/US$
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
Kurs Special Rates: beli Rp18.115/US$, jual Rp18.145/US$
Kurs TT Counter: beli Rp17.935/US$, jual Rp18.235/US$
Kurs Bank Notes: beli Rp17.935/US$, jual Rp18.235/US$
PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP)
Kurs Bank Notes: beli Rp17.938/US$, jual Rp18.265/US$
Kurs Telegraphic Transfers (TT): beli Rp17.938/US$, jual Rp18.265/US$
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)
Kurs Jual Nasabah: Rp18.025/US$
Kurs Beli Nasabah: Rp18.325/US$
PT Bank Panin Tbk (PNBN)
Kurs Special Rates: beli Rp18.105/US$, jual Rp18.125/US$
Kurs TT Counter: beli Rp18.095/US$, jual Rp18.135/US$
PT Bank UOB Indonesia
Kurs: beli Rp17.853/US$, jual Rp18.372/US$
Ketika bank mulai memasang kurs jual jauh di atas pasar spot, pasar sepertinya sedang mengirim sinyal bahwa permintaan dolar meningkat tajam dan ekspektasi pelemahan nilai tukar rupiah masih belum akan mereda dalam waktu dekat.
Tekanan tersebut menyusul gerak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang sempat tembus ke level Rp18.220/US$ pada sesi pagi tadi setelah bergejolak sepanjang perdagangan sebelumnya di rentang batas atas Rp18.200/US$ hingga terlemahnya Rp18.222/US$. Hal tersebut mencerminkan volatilitas rupiah di pasar luar negeri semakin tajam.
Sumber tekanan terhadap rupiah utamanya berasal dari sentimen MSCI. Ancaman perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (Emerging Market) menjadi pasar mandiri (Standalone Market) mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset-aset di pasar Indonesia, dan mengamankan dananya pada aset yang dianggap lebih aman.
Rupiah semakin tertekan setelah Bank Indonesia (BI) lebih memilih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, alih-alih mengambil upaya yang bersifat preventif. Keputusan itu memperlihatkan bahwa BI masih memprioritaskan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan mengandalkan intervensi valuta asing dan insentif lindung nilai (hedging) ketimbang pengetatan moneter lebih lanjut.
Tim Riset Bloomberg Technoz menutur, dalam kondisi investor yang semakin memperhitungkan risiko Indonesia, stabilitas rupiah tak cuma bergantung pada instrumen intervensi yang variatif, tapi juga seberapa besar imbal hasil aset domestik bisa mengompensasi risiko yang dihadapi investor.
Untuk diketahui per 27 Oktober 2026 kemarin, Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun RI berada di posisi tinggi 108,7 yang mengindikasikan premi risiko berinvestasi di instrumen obligasi pemerintah Indonesia semakin meningkat. Kenaikan CDS jadi cerminan bahwa biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar (default risk) Indonesia bertambah.
(fad)

























