Logo Bloomberg Technoz

Partai-partai Arab Israel bersiap menggunakan momentum kenaikan suara ini untuk membantu Eisenkot membentuk pemerintahan, namun tidak untuk Netanyahu, ungkap Ahmed Tibi, pemimpin partai Ta'al, kepada Nas Radio.

Eisenkot "memiliki peluang untuk membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan partai-partai Arab, terlepas dari segala kerumitannya," kata Tibi. "Kami ingin menggunakan hasil saat ini untuk menciptakan perubahan politik yang nyata."

Namun, dua pemimpin partai lain yang tergabung dalam blok Eisenkot menegaskan bahwa mereka menolak duduk di pemerintahan bersama partai-partai Arab, terutama jika kelompok tersebut enggan mendeklarasikan Hamas sebagai organisasi teroris dan Israel sebagai negara Yahudi. Partai Likud pimpinan Netanyahu juga telah menutup pintu negosiasi dengan mereka usai TPS ditutup pada Selasa.

Netanyahu (77) naik ke atas panggung pada pukul 03.15 dini hari waktu setempat, sembari mengklaim bahwa blok sayap kanannya memiliki "mayoritas yang jelas dan menentukan." Ia tampak bersukacita dan menutup pidatonya di Yerusalem dengan memanggil para pejabat dari partai Likud ke atas panggung untuk menyanyikan lagu kebangsaan.

Ia turut membanggakan hubungannya dengan Presiden AS Donald Trump, dan menyatakan bahwa mereka berdua akan "menyingkirkan ancaman" Iran—sebuah sinyal yang kembali mengisyaratkan bahwa putaran serangan baru terhadap Republik Islam tersebut bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Eisenkot (66)—seorang mantan jenderal—telah lebih dulu berpidato dan melabeli pemerintahan sayap kanan ekstrem Netanyahu saat ini sebagai "koalisi kegagalan" yang telah "kehilangan kepercayaan rakyat."

"Kita telah mencetak sejarah," tegasnya. "Publik telah memilih untuk perubahan," tambahnya, sembari mengingatkan bahwa akan menjadi sebuah kesalahan jika pemilu harus dilanjutkan ke putaran kedua.

Partai Likud pimpinan Netanyahu diproyeksikan bakal menjadi partai tunggal terbesar—meskipun kemungkinan meraih kursi lebih sedikit dibandingkan pemilu 2022 lalu—disusul oleh partai Yashar pimpinan Eisenkot di tempat kedua.

Sejak pertengahan Juli, para pedagang (traders) di pasar prediksi secara konsisten selalu menjagokan Eisenkot dengan peluang lebih tinggi untuk menjadi pemimpin berikutnya. Namun konstelasi itu berbalik pada Rabu dini hari, di mana platform Polymarket menunjukkan peluang Netanyahu mendaki ke 48%, sementara peluang Eisenkot anjlok ke 32%.

Komisi Pemilihan Umum Pusat mencatat tingkat partisipasi pemilih nyaris menyentuh rekor tertinggi sepanjang hari, mencapai angka sekitar 78% sesaat sebelum pemungutan suara ditutup pada pukul 10 malam.

Andai Netanyahu berhasil mempertahankan kekuasaannya, hal itu diraih di tengah besarnya tekanan dari kubu oposisi maupun komunitas internasional usai tiga tahun yang didominasi oleh peperangan.

Banyak warga Israel menyalahkan Netanyahu atas kegagalannya dalam mencegah, serta bertanggung jawab atas, serangan Hamas pada Oktober 2023. Sejak insiden itu, Netanyahu telah melancarkan kampanye militer di Gaza, Lebanon, Suriah, dan juga melawan Iran, yang diklaim olehnya dan para pendukungnya telah membuat Israel jauh lebih aman.

Mengingat potensi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan baru di bawah salah satu kandidat, Netanyahu akan tetap menjabat sebagai perdana menteri untuk sementara waktu. Posisi ini memungkinkannya untuk bergabung dengan Trump dalam melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran seusai pemilu paruh waktu AS pekan depan, sesuai ancaman yang berulang kali dilontarkan keduanya.

Sebelumnya, Trump secara terbuka telah mendukung Netanyahu, menyebut petahana tersebut memiliki kapasitas untuk "menyelesaikan pekerjaan" dalam perang delapan bulan melawan Republik Islam tersebut. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump bahkan mengklaim dirinya berjasa mendorong keunggulan Netanyahu.

Di sisi lain, Eisenkot memposisikan dirinya sebagai alternatif yang lebih moderat ketimbang Netanyahu, sembari tetap menekankan komitmennya untuk menuntaskan segudang tantangan keamanan Israel. Terkait Iran, ia menegaskan bahwa program nuklir negara tersebut mutlak harus dibatasi—melalui jalur militer jika perlu—namun ia menilai upaya pergantian rezim di Teheran "bukanlah tujuan yang dapat dicapai."

Di luar urusan keamanan nasional, masyarakat juga memberikan suara mereka atas serangkaian isu dalam negeri—termasuk wacana kewajiban militer bagi lebih banyak pemuda ultra-Ortodoks, seperti yang dijanjikan Eisenkot. Kekuasaan Mahkamah Agung dan sistem peradilan—yang selama ini coba dilemahkan oleh Netanyahu—serta isu transparansi dan korupsi turut menjadi sorotan dalam agenda politik kali ini.

Bagi warga Palestina di Gaza dan wilayah pendudukan Tepi Barat—di mana kekerasan oleh pemukim Yahudi terhadap etnis Arab melonjak drastis sejak agresi Hamas—hasil pemilu ini tampaknya tidak akan membawa perubahan instan. Senada dengan Netanyahu, Eisenkot dengan tegas menolak Solusi Dua Negara (two-state solution) dengan dalih hal itu akan mengancam keamanan Israel, meski ia juga mengecam pemerintah karena mendukung warga Israel yang menyerang penduduk Palestina.

Urusan ekonomi kini sebagian besar terpinggirkan. Israel telah membuktikan ketangguhannya di tengah gempuran berbagai perang, dengan mata uang shekel dan pasar saham mencatatkan kinerja yang mengungguli sebagian besar negara maju pada tahun ini. Kendati demikian, siapa pun yang akan memimpin pemerintahan berikutnya tetap harus bergulat dengan sejumlah persoalan pelik, mulai dari membengkaknya anggaran pertahanan, naiknya level utang negara, hingga biaya hidup yang menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

(bbn)

No more pages