Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan yang sama, terdapat sejumlah penandatanganan kontrak penjualan gas yang turut diteken.

PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi, PT Medco E&P Tomori Sulawesi, dan Tomori E&P Ltd. meneken kontrak penjualan gas dengan PT Panca Amara Utama melalui skema PJBG.

Kemudian, PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi Searah, Eni, PT Saka Energi Muara Bakau, dan Tiptop Ganal Limited meneken kontrak jual beli LNG dengan PLN EPI.

Kelompok perusahaan tersebut juga meneken kontrak jual beli gas alam cair dengan PGN, PT Perta Arun Gas, dan PT Pertagas Niaga.

Selanjutnya, Pertamina, Searah, Eni, dan Tiptop Ganal Limited juga meneken kontrak penjualan LNG dengan PGN, Perta Arun Gas, dan Pertagas Niaga melalui skema LNG SPA.

Terakhir, Medco E&P Sakakemang B.V. meneken kontrak penjualan gas dengan PGN melalui skema PJBG.

Sekadar informasi, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan pengerjaan Front-End Engineering Design (FEED) untuk Proyek LNG Abadi Blok Masela berhasil rampung pada Oktober 2027, tiga bulan lebih cepat dari jadwal awal.

FEED merupakan tahap perancangan teknik awal sebelum proyek masuk ke tahap keputusan investasi final atau final investment decision (FID).

Dia pun berharap tahap FID dapat segera tercapai, paling lambat akhir tahun ini atau Januari 2027.

"Alhamdulillah akhirnya lebih cepat, tiga bulan, Oktober sudah selesai. Mudah-mudahan juga FID-nya segera kalau bisa akhir tahun ini atau paling telat Januari 2027," ungkapnya dalam agenda INPEX–FEED Completion Ceremony di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Pria yang akrab dipanggil Djoksis itu menambahkan, penyelesaian tahap perancangan ini merupakan pekerjaan yang sangat kompleks karena harus mengintegrasikan beberapa tahap pekerjaan utama yang awalnya direncanakan diselesaikan oleh INPEX pada akhir tahun. 

Djoksis menambahkan bahwa Bahlil telah menandatangani persetujuan alokasi gas domestik bagi sejumlah BUMN berupa pasokan gas pipa untuk Pupuk Indonesia, PLN, dan PGN.

Djoksis menegaskan produksi gas dari Proyek LNG Abadi Blok Masela ditargetkan mulai beroperasi secepatnya akhir 2030. 

"Produksi gas dari proyek Abadi ini direncanakan akan mulai beroperasi—seperti pesan Bapak Presiden—secepatnya. Kalau bisa 2029 bagus, 2030 bagus, atau paling telat jangan jauh-jauh dari akhir 2030," tegas Djoksis.

Sebelumnya, Bahlil mengatakan pemerintah mematok porsi ekspor LNG dari hasil produksi Blok Masela maksimal sebesar 40%, dengan memprioritaskan Jepang sebagai mitra pembeli utama.

"Bagi kita sekarang yang terpenting adalah offtaker, ada kepastian. Prioritas negara pilihan pertama dari Indonesia adalah Jepang karena mereka terus berkomunikasi [dengan kami]," ungkap Bahlil dalam agenda groundbreaking proyek raksasa hulu migas tersebut di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Bahlil menambahkan bahwa sisa 60% dari total produksi gas blok tersebut akan dialokasikan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan domestik. Skema ini dirancang demi mendorong hilirisasi industri di dalam negeri.

Sebagai informasi, Proyek LNG Abadi Masela saat ini menjadi proyek migas terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai sekitar US$22 miliar. 

Proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi gas sebesar 1.380 million standard cubic feet per day (MMSCFD), yang nantinya akan dialokasikan menjadi sales gas LNG (gas alam cair untuk penjualan) sebesar 9,5 juta ton per tahun, pasokan gas pipa domestik sebesar 100 MMSCFD, serta produksi kondensat mencapai 35.000 barel per hari.

(azr/wdh)

No more pages