"Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026," klaimnya.
Dia memastikan bahwa bank sentral akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot.
"BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," tegasnya.
Bank Indonesia, lanjutnya, terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tutup perdagangan Rabu (28/10/2026) melemah 0,17% di level Rp18.183/US$, setelah sempat menyentuh posisi All Time Low (ATL) di Rp18.188/US$ siang tadi.
Namun jika dilihat dari posisi penutupan, maka rupiah yang finis di posisi Rp18.183/US$ adalah yang terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan rupiah diperparah dengan aksi jual di pasar obligasi siang ini. Data Bloomberg menunjukkan kenaikan yield terjadi di semua tenor.
Kenaikan paling tajam terjadi di tenor 3 tahun sebesar 13,6 basis poin (bps) ke 7,26%, disusul tenor 12 tahun 10,8 bps jadi 7,59%. Sementara, tenor acuan 10 tahun naik 5,9 bps jadi 7,61%.
Setali tiga uang, pasar saham sempat turut terkoreksi 0,3% ke 5.250,12, sebelum berbalik arah pada 15:05 menjadi 5.268,36.
Tekanan di pasar surat utang domestik dipicu oleh kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun ke 5% jelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Kenaikan yield ini juga turut mempertahankan posisi indeks dolar AS tetap tinggi di 102,43.
Kenaikan itu merembet ke pasar obligasi global. Yield obligasi pemerintah Jepang naik 2,3 bps jadi 2,81%, disusul Australia naik 5,5 bps jadi 5,2%, Korea Selatan naik 9,1 bps jadi 4,11%, dan China 0,5 bps jadi 1,61%.
(lav)



























