Dalam beberapa bulan terakhir, serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi jalur perairan vital tersebut gagal menghentikan arus minyak yang terus mengalir keluar dari kawasan Teluk.
CEO Bahri, Ahmed Al Subaey menyatakan beberapa kapal milik perusahaan sempat diserang selama periode tersebut, yang mengakibatkan dua awak kapal perusahaan tewas.
Dia menambahkan bahwa perang regional ini telah menciptakan "lingkungan operasional yang sangat kompleks."
Bahri—yang secara resmi bernama National Shipping Company of Saudi Arabia—berperan penting dalam membantu produsen minyak negara, Aramco, meningkatkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Aramco berupaya merebut kembali pangsa pasarnya dengan memasok minyak—terutama kepada pembeli China—melalui metode transfer antarkapal (ship-to-ship) di luar Selat Hormuz.
Langkah ini diambil setelah jalur pipa Timur-Barat milik perusahaan tersebut diserang dan sempat tidak beroperasi pada September.
Secara keseluruhan, ekspor minyak dari kawasan Teluk telah pulih hingga mendekati level sebelum perang. Hal ini terjadi seiring meningkatnya jumlah produsen regional yang mengirim minyak melalui Selat Hormuz, dengan memanfaatkan konvoi yang dikawal militer serta mematikan sinyal lokasi kapal guna menghindari deteksi.
(bbn)






























