Logo Bloomberg Technoz

Pada akhirnya, penyeimbang dari sisi suplai menjadi dibutuhkan sehingga mau tidak mau terjadi penyesuaian pada nilai tukar di emerging market, termasuk Rupiah.

Menurut Destry, saat ini otoritas moneter berusaha menyamakan pergerakan Rupiah dengan pergerakan mata uang lain di emerging market secara keseluruhan.

Penguatan Ekspor

Selain itu, Destry juga menyoroti terkait dengan ekspor Indonesia yang harus ditingkatkan sehingga dapat menambah devisa yang masuk ke Indonesia.

“Makanya mungkin berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk bagaimana lebih memperhatikan, memfokuskan ekspor itu supaya tidak terjadi transfer pricing atau under invoice, itu saya rasa hal yang positif ya,” katanya.

Destry memaparkan bahwa saat ini masih banyak potensi-potensi ekspor yang tidak tergarap yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah ke depan.

Sementara itu, ia juga menggarisbawahi peran Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas. Menurutnya sentimen global yang dibarengi dengan guncangan yang berasal dari domestik akan menyebabkan sentimen, seperti investor yang lebih memilih berjaga-jaga.

“Nah, ini yang terus kita, terus terang memang kita berusaha untuk meningkatkan juga untuk memonitor, benar enggak ini ada underlying? Karena kita benar-benar ingin meningkatkan governance dari supply demand valas di domestik,” kata Destry.

Ia juga mengingatkan bahwa yang perlu dihaga adalah volatilitas yang minimal sehingga dapat memberikan kepastian bagi dunia usaha mengenai arah gerak rupiah.

“Bahwa kalau ada timing menguat dia pasti akan tetap menguat, tapi kalau lagi ada tekanan yang tinggi, ada sentimen dan sebagainya, dia akan melemah. Jadi dia bergerak di koridor seperti itu,” katanya.

Sebagai informasi, Rupiah tutup perdagangan Rabu (28/10/2026) melemah 0,17% di level Rp18.183/US$, setelah sempat menyentuh posisi All Time Low (ATL) di Rp18.188/US$ siang tadi. 

Namun jika dilihat dari posisi penutupan (closing), maka rupiah yang finis di posisi Rp18.183/US$ adalah yang terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah diperparah dengan aksi jual di pasar obligasi siang ini. Data Bloomberg menunjukkan kenaikan yield terjadi di semua tenor.

Kenaikan paling tajam terjadi di tenor 3 tahun sebesar 13,6 basis poin (bps) ke 7,26%, disusul tenor 12 tahun 10,8 bps jadi 7,59%. Sementara, tenor acuan 10 tahun naik 5,9 bps jadi 7,61%.

(ell)

No more pages