Logo Bloomberg Technoz

Di antaranya, keluarnya aliran modal asing (capital outflow) setelah penyesuaian indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta pelemahan daya beli kelas menengah.

Dengan demikian, dari sisi moneter, Rahma mendorong BI mengoptimalkan instrumen yang dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing. Instrumen tersebut mencakup Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).

Menurut dia, upaya tersebut diperlukan untuk menahan arus modal keluar sekaligus menjaga efektivitas transmisi suku bunga.

Selain itu, BI perlu memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui strategi triple intervention, yakni di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Intervensi tersebut, lanjutnya, perlu dilakukan secara terukur dan disertai komunikasi yang transparan untuk menjaga ekspektasi pasar serta mencegah kepanikan investor yang dapat memicu aksi jual secara bersamaan.

Sementara di sisi fiskal, Rahma menekankan pentingnya penguatan pasokan valuta asing dari dalam negeri, terutama melalui pengawasan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE).

"Intervensi Fiskal dan pengendalian impor [Pemerintah] sangat pemting, untuk mengendalikan permintaan valas sektoral. Pemerintah melalui kementerian teknis harus menekan demand valas yang tidak esensial di sektor korporasi maupun impor barang konsumtif non-esensial demi memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan [current account]," tegasnya. 

Kendati begitu, ia tetap menekankan bahwa di tengah tekanan pasar keuangan, disiplin fiskal juga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Menurut Rahma, pemerintah perlu menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB), disertai alokasi belanja yang produktif, transparan, dan tepat sasaran.

Daya Beli Kelas Menengah Jadi Perhatian

Tak hanya itu, ia turut mengingatkan pemerintah akan risiko pelemahan rupiah terhadap sektor riil, terutama melalui kenaikan harga bahan baku dan barang konsumsi impor (imported inflation).

Depresiasi rupiah, kata Rahma berpotensi meningkatkan biaya produksi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat diteruskan ke harga barang dan jasa, sehingga memperberat beban rumah tangga.

"Pemerintah harus sigap menyalurkan stimulus tepat sasaran atau bantalan sosial bagi kelompok rentan dan kelas menengah yang mulai tergerus, guna menjaga stabilitas permintaan domestik sebagai jangkar pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

Sebagai catatan, rupiah kembali terpangkas 0,1% ke Rp18.171/US$ dalam perdagangan spot, Rabu (28/10/2026). Tak lama berselang, rupiah kembali susut 0,15% jadi Rp18.180/US$ pada 09:08 WIB. 

Sementara itu, di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah kembali menembus Rp18.219/US$, setelah terpangkas 0,19%. 

Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah. Dari sisi eksternal, indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat 0,1% ke 102,42, sejalan dengan kenaikan yield obligasi pemerintah AS, US Treasury, sebesar 3,3 basis poin (bps) jadi 5,02%.

Kenaikan dolar AS dan yield US Treasury ini dipicu oleh harga minyak mentah Brent yang kembali terdongkrak 1,44% jadi US$115,52/barel. Padahal, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, meski inflasi September tercatat lebih tinggi daripada perkiraan. 

(lav)

No more pages