Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pelaksanaan buyback secara bertahap merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan nilai pemegang saham dengan tetap menjaga kesehatan keuangan dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.
BRI Pertimbangkan Volatilitas Pasar Keuangan
Dalam mengambil keputusan buyback, BRI turut mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta arus modal menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia.
Dinamika tersebut berpotensi mendorong volatilitas harga saham di pasar modal. Karena itu, pelaksanaan buyback menjadi salah satu langkah korporasi yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan keuangan perusahaan.
Dhanny menjelaskan, keputusan tersebut tidak terlepas dari upaya perseroan menjaga keseimbangan antara penciptaan nilai bagi pemegang saham dan keberlanjutan pertumbuhan bisnis. BRI tetap menempatkan kecukupan modal serta pengelolaan risiko sebagai pertimbangan utama dalam menjalankan strategi perusahaan.
Buyback merupakan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham yang telah beredar. Pelaksanaannya dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal dan penciptaan nilai bagi pemegang saham, meskipun dampaknya terhadap harga saham tidak dapat dipastikan karena tetap dipengaruhi berbagai faktor pasar.
Dengan pendekatan bertahap, BRI memiliki ruang untuk menyesuaikan pelaksanaan aksi korporasi dengan perkembangan kondisi pasar dan ketentuan yang berlaku. Strategi tersebut juga berjalan seiring dengan upaya perusahaan menjaga kinerja operasional serta memperkuat fundamental bisnis dalam jangka panjang.
Kinerja BRI Ditopang Pertumbuhan Kredit dan Aset
Di tengah dinamika pasar keuangan, BRI mencatatkan kinerja keuangan yang positif hingga akhir triwulan II 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun, mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga kinerja bisnis di tengah tantangan ekonomi.
Dari sisi neraca, total aset BRI tumbuh 11,7% secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan skala bisnis perseroan sekaligus memperkuat kapasitasnya dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan.
Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 6,7% secara tahunan menjadi Rp1.581 triliun. Penghimpunan dana tersebut menjadi salah satu sumber pendanaan bagi perseroan untuk mendukung penyaluran kredit dan pembiayaan kepada masyarakat serta pelaku usaha.
Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2% secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan ekspansi bisnis kredit yang menjadi bagian penting dalam mendukung pendapatan dan aktivitas intermediasi perseroan.
Kinerja tersebut turut didukung oleh posisi permodalan dan likuiditas yang terjaga. Hingga akhir triwulan II 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5%.
Adapun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 90,8%. Kedua indikator tersebut menjadi bagian dari parameter yang digunakan untuk menilai kapasitas permodalan dan pengelolaan likuiditas perbankan dalam mendukung kegiatan usaha.
Posisi tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk melanjutkan fungsi intermediasi sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan. Meski demikian, pengelolaan risiko dan pemeliharaan kualitas aset tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perusahaan di tengah perubahan kondisi ekonomi.
BRI Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan
Ke depan, BRI menyatakan akan tetap memprioritaskan penguatan kinerja bisnis dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Strategi tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga struktur permodalan, likuiditas, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Pelaksanaan buyback tahap kedua dengan nilai maksimal Rp1 triliun menjadi bagian dari kebijakan perseroan dalam mengelola nilai bagi pemegang saham. Namun, keberlanjutan kinerja bisnis dan kemampuan menghasilkan keuntungan tetap menjadi faktor penting bagi prospek perusahaan dalam jangka panjang.
“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkas Dhanny.
Melalui kombinasi penguatan fundamental, pengelolaan modal, dan strategi pertumbuhan bisnis, BRI berupaya menjaga kinerja perusahaan sekaligus memberikan nilai berkelanjutan kepada pemegang saham. Pelaksanaan strategi tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar, perkembangan ekonomi, dan pemenuhan seluruh ketentuan yang berlaku.






























