Naiknya yield surat utang tenor 10 tahun ini sejatinya telah melampaui asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang berada di 6,9%. Jika kenaikan yield terus berlanjut dan mengerek rata-rata sepanjang tahun, maka berpotensi mempersempit ruang pemerintah untuk menjaga biaya pembiayaan agar tetap terkendali.
Sementara itu, yield surat utang berdenominasi dolar AS masih mendatar di kisaran 5,13% (tenor 2 tahun) hingga 6,43% (tenor 30 tahun). Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi, menilai risiko terkait MSCI mendorong yield spread INDON tenor 10 tahun terhadap US Treasury ke tingkat keseimbangan baru yang lebih tinggi, di kisaran 110-120 basis poin (bps).
"Kondisi ini dapat menjadi hambatan bagi BI dan pemerintah untuk memperkuat cadangan devisa di tengah makin menguatnya tekanan depresiasi atas rupiah," sebut Lionel.
Ia menilai, kenaikan BI Rate bulan depan November semakin sulit diabaikan dalam kondisi seperti ini. Jika BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di level saat ini, maka kebijakan tersebut akan semakin menggambarkan bahwa MH Thamrin cenderung memprioritaskan pertumbuhan alih-alih stabilitas nilai tukar.
Sebagai catatan, rupiah sepanjang tahun ini telah melemah hampir 8%.
(dsp/aji)


























