Selain itu, kendati The Fed diperkirakan menahan Federal Funds Rate, tetapi nada kebijakan yang hawkish dan kemungkinan terbukanya ruang kenaikan suku bunga pada Desember bisa kembali menopang dolar AS.
Dari sisi domestik, ada kenaikan simpanan valuta asing (valas) di perbankan ikut menambah tekanan demand-supply di pasar. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK valas perbankan pada Agustus naik 20,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) jadi Rp1.603,7 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan Juli yang sebesar 17,9%.
Selain itu, lonjakan simpanan berjangka valas di bulan Agustus juga naik. Deposito valas tumbuh 37,5% yoy jadi Rp489,2 triliun. Sementara, tabungan valas naik 23,6% jadi Rp258 triliun dan giro valas ikut tumbuh 11,6% jadi Rp856,5 triliun.
Di tengah pelemahan rupiah sepanjang tahun ini hampir 8%, agaknya preferensi nasabah menempatkan dana dalam denominasi dolar AS semakin tinggi.
Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak ke level Rp18.200/US$, jika tekanan jual menguat baik di pasar obligasi maupun saham.
(dsp/aji)





























