Rupiah semakin tertekan setelah Bank Indonesia (BI) lebih memilih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, alih-alih mengambil upaya yang bersifat preventif. Keputusan itu memperlihatkan bahwa BI masih memprioritaskan dukungan terhadpa pertumbuhan ekonomi, dengan mengandalkan intervensi valuta asing dan insentif lindung nilai (hedging) ketimbang pengetatan moneter lebih lanjut.
Dalam kondisi investor yang semakin memperhitungkan risiko Indonesia, stabilitas rupiah tak cuma bergantung pada instrumen intervensi yang variatif, tapi juga seberapa besar imbal hasil aset domestik bisa mengompensasi risiko yang dihadapi investor.
Untuk diketahui, Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun RI kembali tinggi di posisi 108,7 yang mengindikasikan premi risiko berinvestasi di instrumen obligasi pemerintah Indonesia semakin meningkat. Kenaikan CDS jadi cerminan bahwa biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar (default risk) Indonesia bertambah.
Faktor Eksternal
Sementara itu, di sisi eksternal ada beberapa perkembangan yang bisa menahan laju pelemahan rupiah dan mata uang Asia. Harga minyak mentah kemarin ditutup turun 0,78% ke US$115,81/barel, memberi ruang bagi negara pengimpor energi di kawasan untuk mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.
Pada saat yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun turun tipis 0,6 basis poin jadi 4,98%. Jika penurunan yield obligasi AS ini berlanjut, tekanan dari kenaikan imbal hasil aset dolar bisa lebih berkurang.
Selain itu, prospek kebijakan The Fed juga jadi faktor yang memengaruhi gerak mata uang kawasan. Bloomberg Economics memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4%. Tapi, nada hawkish dan kemungkinan adanya perbedaan pendapat dari sejumlah pejabat masih ada.
Di sisi lain, indeks dolar AS sempat menguat 0,15% ke level 101,95, mengindikasikan permintaan terhadap dolar AS masih bertahan, meskipun yield US Treasury sedikit turun.
Kombinasi ini membuat pergerakan sebagian mata uang kawasan lebih beragam. Won Korea Selatan tercatat menguat 0,17%, diikuti ringgit Malaysia, dan dolar Singapura yang lebih terbatas. Sementara mata uang lainnya, seperti yen Jepang, dan yuan offshore melemah.
Dengan begitu, agaknya peluang stabilisasi mata uang kawasan, termasuk rupiah, bisa tetap terbuka asalkan harga minyak melanjutkan koreksi lebih lanjut, yield US Treasury terpangkas turun, dan keputusan The Fed tidak memperkuat adanya ekspektasi pengetatan moneter.
Tapi yang terang saat ini, risiko inflasi dan potensi berlanjutnya arus modal keluar masih membuat prospek mata uang kawasan belum sepenuhnya kondusif. Khususnya bagi rupiah yang saat ini menghadapi tantangan lebih besar karena adanya peningkatan premi risiko domestik.
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi lanjut melemah, turut dibayangi sentimen yang kurang positif di pasar, dengan target pelemahan menuju level Rp18.178/US$ yang merupakan support pertama sekaligus titik level All Time Low/ ATL nya dengan target pelemahan kedua berharap tertahan di Rp18.200/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level pesimistis Rp18.250/US$ hingga Rp18.300/US$ yang merupakan level All Time Low baru.
Jika nilai tukar rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level range Rp18.100/US$ dan selanjutnya Rp18.000/US$ potensialnya.
--- diperbarui analisa tekninal, dengan asistensi M. Julian
(riset)





























