Logo Bloomberg Technoz

Menurut data EveryWatch, jam tangan Rolex yang memiliki sertifikasi resmi dijual dengan harga sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan model sebanding yang tidak bersertifikat.

Namun, berbeda dengan Rolex yang membeli sekaligus menjual jam tangan bekasnya melalui mitra ritel resmi seperti Bucherer, yang dimilikinya, Audemars Piguet justru menyiapkan sebuah marketplace tempat penjual menentukan harga sendiri. Produsen jam tangan tersebut akan menyimpan jam tangan di pusat layanan, memotretnya, dan memverifikasi keasliannya, sebelum memberikan garansi dua tahun kepada pembeli.

Komisi yang dikenakan berkisar antara 10% hingga 20%, bergantung pada harga jam tangan.

“Kami merancang seluruh model ini sebagai layanan bagi pelanggan untuk mengatasi salah satu persoalan utama, yakni kepercayaan pembeli,” kata Chief Executive Officer Ilaria Resta dalam wawancara. Ia menambahkan bahwa program sertifikasi tersebut dapat menjadi cara untuk menarik lebih banyak pelanggan ke merek tersebut. “Nilai jual kembali AP di pasar sekunder semakin kuat.”

Tiga merek—Rolex, Patek Philippe, dan Audemars Piguet—menguasai sedikit lebih dari 60% pasar sekunder, porsi yang lebih besar dibandingkan pangsa gabungan mereka di pasar primer, menurut laporan yang diterbitkan LuxeConsult pada Jumat.

Program jam tangan bekas bersertifikat Rolex, yang dimulai pada akhir 2022, mencatat penjualan US$590 juta tahun lalu, menurut LuxeConsult. Angka tersebut bahkan telah terlampaui pada September tahun ini. Sebagai perbandingan, penjualan Rolex di pasar primer diperkirakan memiliki nilai ritel sekitar 16 miliar franc Swiss (US$19,4 miliar), berdasarkan laporan terbaru Morgan Stanley dan LuxeConsult mengenai pasar jam tangan.

Salah satu peritel utama Rolex, Watches of Switzerland Group Plc, berencana melaporkan penjualan jam tangan bekas bersertifikat awal secara terpisah karena kontribusinya yang semakin signifikan.

Di sisi lain, Audemars Piguet berencana menjalankan platform sertifikasinya dalam skala lebih kecil, dengan batas sekitar 100 jam tangan pada satu waktu. Jam tangan tersebut juga tidak akan disimpan atau dipajang di gerai-gerainya.

Didirikan pada 1875, Audemars Piguet merupakan salah satu dari sedikit produsen jam tangan mewah besar yang masih dikendalikan oleh keturunan keluarga pendirinya. Perusahaan ini menerapkan strategi kelangkaan dengan membatasi produksi. Koleksi Royal Oak, misalnya, menjadi salah satu yang paling diburu.

Pendapatan perusahaan tumbuh 10% tahun lalu, kata Resta, seraya menambahkan bahwa angka tersebut telah terlampaui pada 2026.

“Kami lebih memilih menciptakan sesuatu yang setara dengan AP House di pasar jam tangan bekas bersertifikat,” kata Resta. “Kami tidak menyukai transaksi yang terasa dingin, baik di butik maupun di AP House, dan tentu saja kami tidak ingin hal seperti itu terjadi dalam program CPO (certified pre-owned).”

(bbn)

No more pages