Saham China yang diperdagangkan di bursa domestik telah memasuki pasar bearish, di tengah konsumsi yang terus lesu dan dukungan kebijakan yang mulai memudar, sehingga membayangi prospek pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Aksi jual saham kecerdasan buatan (AI) secara global turut menambah tekanan. Sementara itu, saham Hong Kong masih rentan terhadap fluktuasi imbal hasil obligasi global dan ekspektasi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Morgan Stanley masih lebih memilih saham domestik China seiring meningkatnya dukungan dari kelompok investor yang didukung negara (national team) terhadap pasar. Menurut para analis, saham di China daratan juga memiliki “porsi lebih besar pada segmen perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih tinggi, khususnya perusahaan AI, teknologi inti, dan inovasi.”
Indeks acuan saham China daratan, CSI 300, diperdagangkan pada valuasi 11,6 kali estimasi laba untuk 12 bulan ke depan. Sementara itu, Indeks Hang Seng Hong Kong berada pada 9,5 kali.
Salah satu indikator yang perlu dicermati adalah pembelian saham dalam skala besar oleh national team. Menurut para analis, pasar cenderung mencapai titik terendah satu hingga dua bulan setelah pembelian tersebut, terutama jika disertai komitmen terbuka dari pembuat kebijakan untuk menstabilkan pasar saham.
“Apa yang terjadi menunjukkan bahwa Beijing saat ini berupaya mengubah keseimbangan marginal antara penawaran dan permintaan serta membentuk batas bawah pasar tanpa melakukan intervensi secara paksa,” tulis para analis dalam catatan tersebut.
“Pesan kebijakan yang lebih proaktif dan amunisi dana yang masih besar, berdasarkan pengalaman historis, mengindikasikan bahwa stabilisasi pasar saham A bisa lebih terlihat sekarang, kemungkinan dalam satu hingga dua bulan ke depan.”
(bbn)





























