Saham–saham teknologi, infrastruktur, dan saham transportasi menjadi pemberat IHSG dengan tertekan mencapai 2,19%, 1,29%, dan 1,17%. Melemahnya IHSG merupakan efek langsung dari tekanan di sejumlah saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap Indeks.
Berikut beberapa di antaranya berdasarkan data Bloomberg:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengurangi 11,85 poin
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengurangi 7,21 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengurangi 5,55 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 5,03 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 4,94 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 3,85 poin
- PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) mengurangi 2,79 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 2,73 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 2,44 poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengurangi 1,98 poin
Analisis Mirae Asset Sekuritas Indonesia memaparkan, IHSG tertahan oleh masih derasnya tekanan foreign net sell serta ketidakpastian seputar rebalancing indeks MSCI. Pasar mencermati efektivitas reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan BEI, termasuk rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November.
Selain itu, volatilitas harga minyak mentah dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah yang berada di atas Rp18.100 per dolar AS, dinamika market global, serta ekspektasi terhadap kebijakan penetapan suku bunga The Fed, juga membayangi persepsi risiko investor.
Senada, Phintraco Sekuritas juga menyematkan kehati–hatian dengan mewaspadai dampak kenaikan harga minyak, koreksi harga emas, serta depresiasi nilai tukar rupiah.
“Secara teknikal IHSG berpeluang menguji level resistance 5.500–5.600. Namun waspadai sentimen negatif dari eksternal dan profit taking,” tambah Phintraco dalam catatan terbarunya.
Pekan lalu, IHSG sempat mengalami kenaikan empat hari beruntun. Dalam empat hari tersebut, terjadi lonjakan hampir 9%. Jadi sepertinya unsur profit taking memang rasanya sulit dilepaskan dari koreksi IHSG hari ini.
(fad/aji)




























