Logo Bloomberg Technoz

Capaian tersebut layak dihargai tanpa mengabaikan keluarga berpendapatan tidak menentu dan pencari kerja yang masih menunggu kesempatan. Penurunan kemiskinan dipengaruhi banyak faktor, termasuk pekerjaan, perlindungan sosial, pemberdayaan, serta perjuangan masyarakat sendiri. Angka investasi menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi. Kehidupan warga memperlihatkan sejauh mana manfaatnya dirasakan.

Semangat mempertemukan pertumbuhan dengan kebutuhan warga itu pula yang saya bawa ketika mengunjungi fasilitas K-water di kawasan Danau Sihwa. Pengalaman Korea Selatan memberikan pelajaran tentang pentingnya merencanakan kebutuhan air industri dan masyarakat secara terpadu.

Dok. BP Batam

Di Sihwa–Siheung dan Ansan, layanan air dibedakan sesuai peruntukannya: air industri untuk Kawasan Industri Sihwa dan air domestik untuk permukiman di Siheung dan Ansan. Pendekatan ini mengingatkan bahwa kapasitas, kualitas, dan distribusi harus dirancang agar pertumbuhan industri berjalan bersama pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Sementara itu, di Kawasan Industri Daesan, Kota Seosan, K-water mengembangkan desalinasi dengan teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis), yang memisahkan garam dari air laut menggunakan membran bertekanan tinggi. Fasilitas yang diresmikan pada Desember 2025 ini berkapasitas 100.000 meter kubik per hari, setara sekitar 1.157 liter per detik, untuk memasok empat perusahaan industri. Daesan menunjukkan bagaimana air laut dapat menjadi sumber tambahan untuk memperkuat ketahanan pasokan industri.

Kedua pengalaman ini memberikan arah pembelajaran bagi Batam: merencanakan layanan sesuai kebutuhan dan mengembangkan sumber air tambahan dari laut. Penerapannya perlu memperhitungkan biaya, keandalan energi, kualitas air, serta perlindungan lingkungan. Investasi harus tumbuh bersama ketahanan air, sehingga pabrik tetap berproduksi dan keran warga tetap mengalir.

Di Batam, persoalan air telah berulang sejak lama. Berkurangnya hujan dan menurunnya cadangan waduk perlu diantisipasi sejak awal. Kesiapan menghadapi masa kering harus berjalan bersamaan dengan pembangunan kapasitas jangka panjang.

Dalam proyeksi BP Batam, Neraca Air Baku Pulau Batam, kebutuhan saat ini sebesar 4.928 liter per detik, sedangkan kapasitas 4.482 liter per detik, sehingga terdapat kekurangan 446 liter per detik pada musim kering.

BP Batam telah menyusun perencanaan penambahan kapasitas. Pada 2027, kapasitas diproyeksikan mencapai 6.186 liter per detik, dengan kebutuhan 5.681 liter per detik, sehingga tersedia surplus 505 liter per detik. Pada 2032, kapasitas diproyeksikan mencapai 9.876 liter per detik, dibandingkan kebutuhan 6.672 liter per detik, menghasilkan surplus 3.204 liter per detik.

Proyeksi tersebut bergantung pada terlaksananya seluruh program dan kontribusi swasta. Ketersediaan air baku harus didukung kemampuan pengolahan, jaringan distribusi, pengurangan kebocoran, serta keandalan pompa dan listrik. Surplus dalam neraca harus sampai ke keran warga.

Pelaksanaan semua itu membutuhkan kepercayaan publik. Ketidaksukaan kepada BP Batam jangan menghilangkan arti capaian. Sebaliknya, dukungan

kepada BP Batam jangan membuat keluhan masyarakat dikecilkan. Ketidaksukaan tidak boleh menghapus fakta. Dukungan tidak boleh menghapus tanggung jawab.

Sebagai bagian dari pimpinan BP Batam, saya ikut memikul tanggung jawab tersebut. Hadiah terbaik pada usia ke-55 adalah perbaikan yang dirasakan dan kemajuan yang dapat diperiksa. Keluhan membutuhkan tindak lanjut, proyek memerlukan kepastian penyelesaian, dan masyarakat berhak mengetahui perkembangannya.

Mari kita satukan langkah mewujudkan Batam Maju: investasi melonjak, lapangan kerja meluas, pelayanan semakin andal, dan setiap keluarga merasakan manfaat pembangunan.

Selamat HUT ke-55 BP Batam.

(tim)

No more pages
Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone