“Singapura tidak akan mampu sepenuhnya melindungi diri dari guncangan global maupun regional,” ujarnya. “Ketika pasokan mengetat, negara-negara mungkin juga akan memprioritaskan kebutuhan domestik mereka sendiri. Tren nasionalisme sumber daya ini sangat mengkhawatirkan.”
Meski Indonesia merupakan eksportir gas utama, pengiriman ke luar negeri menurun dalam beberapa tahun terakhir karena porsi produksi yang dialokasikan untuk kebutuhan domestik semakin besar. Pasar utama ekspor gas alam cair (LNG) Indonesia antara lain China, Jepang, dan Korea Selatan, sedangkan gas alam melalui pipa dikirim ke Singapura dan Malaysia.
Indonesia merupakan salah satu pemasok gas utama bagi Singapura, yang bergantung pada bahan bakar impor untuk hampir seluruh pembangkit listriknya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara pulau tersebut secara signifikan mengurangi ketergantungan pada pasokan gas melalui pipa seiring meningkatnya pengiriman LNG.
“Sekitar setengah dari kebutuhan gas kami dipenuhi melalui impor LNG dari portofolio sumber yang terdiversifikasi secara global, seperti AS, Afrika, Timur Tengah, dan Australia,” kata Tan.
Singapura memperkirakan kapasitas penyaluran LNG-nya akan meningkat 50% lagi setelah terminal impor keduanya mulai beroperasi sebelum 2030, ujarnya.
Singapura juga telah mengumumkan rencana pembangunan lima pembangkit listrik baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026 hingga 2031. Proyek-proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik lebih dari seperempat.
Dalam pengumuman terpisah, Tan menyampaikan bahwa Arab Saudi dan Singapura mencapai kesepakatan tidak mengikat untuk menyimpan minyak mentah Saudi di fasilitas penyimpanan bawah tanah berupa gua (cavern) di bawah Pulau Jurong, mulai paruh kedua 2027.
(bbn)


























