Logo Bloomberg Technoz

BI mencatat pertumbuhan DPK lebih didorong oleh meningkatnya DPK korporasi yang masih tumbuh 11,3% yoy, dari 11% yoy pada bulan sebelumnya serta pertumbuhan di segmen lainnya (terdiri dari Pemda, Koperasi, Yayasan, dan Swasta) yang tumbuh 69,9% yoy. Sementara di segmen perorangan, DPK justru melemah, bahkan terkontraksi. 

Cuan Bank Makin Tipis 

Tekanan terhadap keuntungan alias cuan sektor perbankan mulai terlihat dari makin sempitnya ruang untuk menjaga margin keuntungan di saat biaya pendanaan semakin tinggi. 

Asesmen BI edisi Agustus mencatat Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) industri memang secara agregat turun menjadi 8,61% pada Juni dari 8,65% bulan sebelumnya. Namun, penurunan SBDK tidak otomatis membuat bunga kredit ikut landai.

Suku bunga kredit rupiah naik menjadi 8,88% pada Juli dari 8,81% pada Juni. Sementara suku bunga kredit baru naik juga menjadi 9,88% dari 9,49%. 

Selain itu, di balik turunnya SBDK sejatinya bank juga sebenarnya menghadapi tekanan biaya dana yang semakin besar. BI mencatat Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) naik 8 basis poin (bps) jadi 3,11% pada Juni dari 3,03% pada Mei. Kenaikan ini jadi indikasi bahwa biaya yang harus ditanggung bank untuk menghimpunan dana semakin meningkat. 

Demi menahan kenaikan SBDK, perbankan mengimbanginya dengan efisiensi biaya operasional dan penyesuaian margin keuntungan. Tercermin dari margin keuntungan industri yang turun dari 2,13% pada Mei menjadi 2,07% pada Juni. 

Artinya, bank harus menyerap sebagian tekanan biaya lewat penghematan dan pengurangan margin. Alhasil, ruang bagi bank untuk tetap cuan berpotensi makin terbatas. 

Di antara kelompok bank, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) yang mengalami kenaikan SBDK pada Juni. BPD naik jadi 9,13% dari 9,09%, sedangkan KCBA naik jadi 5,36% dari 5,16%. 

Sementara sisanya, yang terdiri dari Bank BUMN dan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), tercatat mengalami penurunan SBDK. BI menyebut perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan kondisi likuiditas, struktur pendanaan, dan strategi masing-masing kelompok bank. 

Meski begitu, tekanan sebenarnya berpotensi terus berlanjut, seiring meningkatnya persaingan dalam menghimpun dana masyarakat. Survei Perbankan BI edisi Oktober menunjukkan suku bunga simpanan berjangka naik pada sejumlah tenor.

Bunga deposito tenor 1 bulan naik jadi 5,3% dari 5,1% pada bulan sebelumnya. Pada tenor 3 bulan, bunga juga naik jadi 5,9% dari 5,8%, sedangkan tenor 24 bulan atau dua tahun naik jadi 4,4% dari 4,2%. 

Kenaikan biaya pendanaan ini menunjukkan perbankan perlu menawarkan imbal hasil yang lebih menarik untuk mempertahankan atau menarik dana nasabah. Terlebih, tantangan dalam penghimpunan dana juga masih tinggi.

Terlihat dari komposisi pertumbuhan DPK yang belum rata. Tumbuhnya DPK perbankan lebih banyak ditopang korporasi, sementara simpanan perorangan justru melemah. 

BI mencatat simpanan berjangka perorangan terkontraksi 1,9% yoy menjadi Rp1.389,3 triliun. Pertumbuhan tabungan juga melambat jadi 7,2% yoy menjadi Rp2.765,9 triliun dari 7,6% pada Agustus. Bahkan, simpanan giro perorangan juga terkontraksi 9,6% yoy menjadi Rp105,8 triliun. 

Kondisi ini agaknya membuat bank menghadapi tantangan untuk menjaga kestabilan sumber pendanaan, terutama saat kebutuhan kredit tetap tumbuh dan persaingan antarbank dalam berebut dana kian ketat. 

(dsp/aji)

No more pages