Sentimen konsumen terus memburuk pada Oktober di tengah inflasi yang masih bertahan tinggi, perekrutan tenaga kerja yang lesu, serta tingginya suku bunga KPR. Harga bensin di SPBU yang masih bertahan jauh di atas US$4 per galon kian memperparah rasa frustrasi masyarakat yang telah lama terbebani oleh tingginya biaya hidup.
Dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan harga telah melampaui kenaikan upah, sehingga semakin menekan anggaran rumah tangga. Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa harga konsumen pada bulan September melonjak dengan laju tercepat dalam lima bulan terakhir.
Isu-isu ekonomi seperti lonjakan biaya hidup tetap menjadi sorotan utama bagi warga Amerika di fase-fase akhir masa kampanye pemilu paruh waktu (midterm elections).
Prospek Pemilu
"Konsumen dari berbagai latar belakang pandangan politik sepakat bahwa inflasi secara meyakinkan merupakan risiko yang jauh lebih besar bagi perekonomian pada tahun mendatang ketimbang masalah pengangguran," tambah Hsu.
Sentimen di kalangan pendukung Partai Demokrat dan Republik sedikit membaik pada Oktober, sementara sentimen di kalangan pemilih independen justru merosot selama tiga bulan berturut-turut.
Indikator kondisi pembelian barang tahan lama (durable goods) anjlok ke rekor terendah pada Oktober. Laporan tersebut menyoroti tingginya suku bunga dan meningkatnya kekhawatiran terkait daya beli sebagai pemicu utamanya. Hampir 70% konsumen memperkirakan suku bunga akan kembali naik pada tahun mendatang, yang merupakan angka tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Indikator kondisi ekonomi saat ini terperosok ke level terendah kedua sepanjang sejarah pencatatan, sementara indeks ekspektasi konsumen justru membaik untuk pertama kalinya sejak Juli.
Adapun periode survei ini mencakup tanggapan yang dikumpulkan sejak 22 September hingga 19 Oktober.
(bbn)




























