Agnes menjelaskan, kesiapan tersebut menjadi pertimbangan karena pembiayaan Indonesia Eximbank ditujukan untuk kegiatan yang berorientasi ekspor.
“Kalau belum ngerti apa-apa agak sulit kita biayai. Karena pembiayaan LPEI itu harus orientasinya ekspor. Kalau belum tadi ada tempatnya, kita coba kembangin dulu dari bawah,” ujarnya.
Setelah kebutuhan dan kesiapan usaha teridentifikasi, pelaku usaha dapat mengajukan fasilitas sesuai karakteristik bisnisnya. Indonesia Eximbank menyediakan pembiayaan modal kerja untuk mendukung perputaran usaha serta pembiayaan investasi untuk pengadaan barang modal, mesin, dan peningkatan kapasitas produksi.
Lembaga ini juga menyediakan penjaminan kredit untuk membantu pelaku usaha memperoleh tambahan pembiayaan dari perbankan. Dalam skema tersebut, penjaminan dapat meningkatkan keyakinan bank untuk memberikan fasilitas kredit kepada nasabah.
“Jadi nanti kita kasih penjaminan kredit, supaya BNI atau BRI lebih confident ngasih tambahan,” kata Agnes saat menjelaskan skema penjaminan kepada pelaku usaha yang membutuhkan tambahan pembiayaan.
Selain itu, Indonesia Eximbank menawarkan asuransi Marine Cargo untuk risiko pengangkutan barang dan Trade Credit Insurance untuk perlindungan piutang dagang sesuai ketentuan polis. Kedua fasilitas tersebut dapat menjadi instrumen bagi eksportir dalam mengelola risiko pengiriman dan pembayaran.
Dukungan Indonesia Eximbank menjangkau sejumlah sektor yang memiliki potensi ekspor, termasuk furnitur, kerajinan, rotan, rempah-rempah, rumput laut, serta produk olahan ikan. Dalam pemaparannya, Agnes mencontohkan produk rotan yang telah dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Belanda, Selandia Baru, dan Italia.
Melalui pendampingan dan beragam instrumen pembiayaan serta mitigasi risiko, Indonesia Eximbank berupaya membantu pelaku usaha membangun fondasi bisnis yang lebih siap sebelum memperluas pasar ke luar negeri.
(tim)





























