Kondisi ini berpotensi berdampak negatif pada logam karena dapat menekan permintaan dan meningkatkan biaya produksi.
Tembaga sempat mencapai rekor tertinggi bulan lalu, tetapi sejak saat itu cenderung bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed.
"Data IHK [Indeks Harga Konsumen] AS jauh melampaui perkiraan, memperkuat ekspektasi inflasi dan menekan harga tembaga," tulis Guangzhou Futures dalam catatannya.
Logam-logam lain di LME juga mengalami penurunan, di mana harga aluminium menyentuh level terendah sejak tahun lalu.
Secara keseluruhan, harga tembaga masih mencatatkan kenaikan lebih dari 15% sepanjang tahun 2026, dipicu oleh arus pasokan logam yang besar ke AS—menjelang penerapan tarif impor—yang menyebabkan kekurangan pasokan di wilayah lain.
Namun, optimisme terhadap permintaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) juga telah memicu sentimen bullish pada tembaga, sehingga logam ini rentan terhadap hambatan yang mungkin dihadapi sektor tersebut.
Saham-saham AI termasuk di antara yang mengalami penurunan paling tajam pada Kamis karena investor berbondong-bondong menjauhi aset berisiko. Indeks acuan saham Korea Selatan turun 8% karena investor mulai khawatir mengenai keberlanjutan pengeluaran teknologi tersebut.
Jika harga tembaga ditutup melemah hari ini, ini akan menjadi penurunan harian ketiga berturut-turut—periode penurunan terpanjang sejak Juni.
(bbn)





























