Logo Bloomberg Technoz

LOGAM DASAR

Banyak Insiden Tambang, Produksi Tembaga Dunia Hanya Tumbuh 1,1%

Sabrina Mulia Rhamadanty
15 October 2026 09:50

Tambang tembaga terbuka Codelco Chuquicamata di dekat Calama, Cile. (Cristobal Olivares/Bloomberg)
Tambang tembaga terbuka Codelco Chuquicamata di dekat Calama, Cile. (Cristobal Olivares/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – BMI, lengan riset Fitch Solutions, mengoreksi proyeksi pertumbuhan produksi tambang tembaga dunia pada 2026 menjadi 1,1% secara tahunan atau year on year (yoy) dari estimasi sebelumnya sebesar 2,4%.

Penyesuaian ini dipicu oleh penurunan prospek produksi tembaga di Cili—selaku negara produsen tembaga terbesar—serta kendala operasional yang berlanjut di tambang-tambang raksasa dunia pascainsiden pada 2025, termasuk tambang tembaga Grasberg di Indonesia milik PT Freeport Indonesia (PTFI).

"BMI merevisi turun proyeksi pertumbuhan produksi tambang tembaga dunia 2026 menjadi 1,1% [yoy] dari sebelumnya 2,4%, terutama karena penurunan prospek di Cili serta kendala operasional yang berlanjut di tambang Grasberg, Indonesia dan Kamoa, Kongo pascainsiden 2025," tulis tim peneliti BMI dalam laporannya pekan ini.

Proyeksi produksi tembaga di negara penghasil terbesar dunia yaitu Cili./dok. BMI

Sebelumnya, International Copper Study Group (ICSG) mencatat bahwa produksi tambang global telah terkontraksi sebesar 1,0% yoy pada tujuh bulan pertama (Januari—Juli) 2026. 

ICSG juga mengamini penurunan produksi tembaga di Cili, Republik Demokratik Kongo (DRC), dan Indonesia memicu kontraksi tersebut, meski sebagian berhasil diimbangi oleh kenaikan output dari Peru dan Mongolia.