Setiap penghentian operasional akan menambah daftar gangguan pasokan tembaga dari Cili sepanjang tahun ini, di mana produksi telah terdampak oleh aksi buruh dan gangguan akibat faktor cuaca.
Pada Agustus, negara tersebut mencatat kinerja produksi tembaga terburuk dalam lebih dari 15 tahun terakhir.
Harga tembaga mencapai rekor mendekati US$14.900 bulan lalu, dan sejak itu berfluktuasi tidak jauh dari level tersebut di tengah ketidakpastian mengenai kebijakan The Fed dan dampak perang AS-Iran.
Data harga konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu sore nanti akan dicermati dengan saksama, karena dapat menentukan langkah bank sentral berikutnya setelah kenaikan suku bunga pertama sejak 2023, yang dilakukan pada September lalu.
Menjelang rilis data inflasi, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan ia masih memandang perlunya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini, tetapi ia tidak yakin kenaikan tambahan akan diperlukan pada 2027.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat menjadi hambatan bagi harga logam karena memperlambat laju perekonomian dan menaikkan biaya operasional.
Harga tembaga tercatat naik 0,5% menjadi US$14.649 per ton pada pukul 16.22 waktu Shanghai. Harga seng dan nikel juga mengalami kenaikan, sementara harga aluminium sedikit turun.
(bbn)


























