LOGAM DASAR
Ada Risiko Defisit, Nikel Diproyeksi Tembus US$22.000 pada 2032
Azura Yumna Ramadani Purnama
09 October 2026 10:50

Bloomberg Technoz, Jakarta – BMI memperkirakan harga logam nikel akan terus menguat dalam jangka panjang dan mencapai US$22.000/metrik ton (mt) pada 2032, seiring dengan surplus pasar yang makin menyempit dan beralih menjadi defisit.
BMI, lengan riset Fitch Solutions, memperkirakan pasar nikel mulai masuk kondisi defisit pada 2030. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga 2032, dengan defisit mencapai 231.000 mt pada tahun tersebut.
Sebagai perbandingan, BMI saat ini masih mempertahankan proyeksi harga rata-rata nikel 2026 di US$17.000/mt. Harga kemudian diproyeksikan naik menjadi US$19.000/mt pada 2030, US$21.500/mt pada2031, dan mencapai US$22.000/mt pada 2032.
"Kami memperkirakan harga mencapai puncak US$22.000/mt pada 2032, ketika pasar diperkirakan masuk ke kondisi defisit. Pengembangan teknologi energi bersih, termasuk sistem energi terbarukan dan pasar EV, memberikan potensi kenaikan yang signifikan bagi permintaan nikel," tulis BMI dalam riset terbarunya, dikutip Jumat (9/10/2026).
BMI melihat prospek jangka panjang nikel masih positif seiring pertumbuhan permintaan yang kuat. Permintaan tersebut terutama didukung oleh ekspansi industri baja nirkarat (stainless steel) dan percepatan transisi energi bersih.






























