Industri manufaktur Vietnam memang luar biasa. Vietnam adalah assembly line raksasa untuk produk elektronik (smartphone, laptop, konsol game), tekstil, sepatu, dan furnitur. Lebih dari 50% smartphone buatan Samsung dan porsi signifikan dari iPad/MacBook Apple dirakit di Vietnam.
Sub-sektor industri elektronik menjadi pemain penting di Vietnam. Sekitar 20% industri manufaktur berada di sub-sektor ini. Nilai ekspor elektronik Vietnam pun luar biasa, sudah menembus level US$ 100 miliar pada 2024.
Faktor ini yang kemudian membuat ekonomi Vietnam mampu tumbuh tinggi dan berdaya tahan. Di tengah ekonomi dunia yang begitu dinamis dan harga komoditas yang bergerak ‘liar’, ekonomi Vietnam tetap tangguh dan tumbuh. Ini karena posisi Vietnam yang kian penting dalam percaturan rantai pasok (supply chain) dunia dengan kehadiran pemain-pemain kelas paus seperti Samsung, Intel, dan Apple.
Incaran Pemain Besar
Bicara soal pemain-pemain besar dunia, Vietnam menjadi ‘darling’ bagi para investor raksasa. Keunggulannya ada pada ketajaman perjanjian perdagangan bebas (Free rade Agreement/FTA), efisiensi logistik manufaktur, serta kepastian regulasi untuk menarik investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) perakitan skala masif.
Samsung mendirikan pusat riset dan pengembangan terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Hanoi. Vietnam juga mendorong investasi pabrik pengujian dan pengemasan semikonduktor (Assembly, Testing & Packaging/ATP) seperti Intel dan Amkor.
Saat hubungan Amerika Serikat (AS)-China memanas dan berujung pada perang dagang, Vietnam muncul sebagai pihak yang diuntungkan. Ketegangan perdagangan AS-China serta kenaikan biaya manufaktur di China mendorong perusahaan multinasional mencari basis produksi alternatif. Vietnam menjadi pemenang utama dari tren ini berkat kedekatan geografisnya dengan rantai pasok China.
Realisasi FDI di Vietnam konsisten tinggi. Raksasa teknologi seperti Samsung, Foxconn, LG, dan Apple telah memindahkan jalur manufaktur utama mereka ke Vietnam. Samsung saja menyumbang sekitar 20% dari total nilai ekspor Vietnam.
Booming AI
Dalam laporan terbaru, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Vietnam tumbuh 7,4% tahun ini. Naik 1,1 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya. Ini menjadi kenaikan tertinggi di antara negara-negara Asia Pasifik.
Menurut Bank Dunia, sektor manufaktur, ekspor, dan investasi publik menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Vietnam. Aktivitas ekonomi diperkirakan terangkat karena stimulus fiskal dan investasi pemerintah yang ekspansif.
Di tengah booming kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Vietnam juga memainkan peran penting. “Integrasi dengan rantai pasok global dan perekonomian yang dinamis membuat Vietnam berada di posisi yang kuat dalam booming AI,” sebut Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Industri manufaktur dan ekspor teknologi tinggi dan AI menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Vietnam, menurut Bank Dunia. Tren ini diperkirakan bisa bertahan dalam beberapa tahun mendatang.
“Sebagai salah satu perekonomian paling terbuka di dunia, integrasi Vietnam dalam rantai pasok AI sudah begitu dalam. Jika tren AS terus berlanjut, maka Vietnam akan berpeluang mendapatkan keuntungan dan mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” tefas Fraziska Ohnsorge, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Kawasan Asia-Pasifik.
(aji)



























