Logo Bloomberg Technoz

BURSA MINERAL

Transaksi Komoditas di BMKS Disebut Pakai Rupiah, Apa Risikonya?

Azura Yumna Ramadani Purnama
08 October 2026 10:30

Suasana perdagangan di London Metal Exchange (LME)./Bloomberg-Jason Alden
Suasana perdagangan di London Metal Exchange (LME)./Bloomberg-Jason Alden

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai bakal terdapat beban baru yang dipikul pembeli komoditas dari konversi mata uang ke rupiah, jika nantinya transaksi di Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) hanya bisa menggunakan mata uang Garuda.

Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono menyatakan jika mata uang yang digunakan dalam transaksi di BMKS dipaksakan hanya rupiah, terdapat potensi pelaku pasar enggan menjadikan BMKS sebagai bursa komoditas dunia.

Dia menegaskan mayoritas perdagangan komoditas global menggunakan dolar AS, sehingga jika mereka harus mengonversinya ke rupiah, bakal terdapat beban biaya yang membuat harga komoditas di BMKS kurang kompetitif dibandingkan dengan di bursa global lainnya.


“Jika pembeli internasional dipaksa menggunakan rupiah, mereka harus melakukan konversi mata uang terlebih dahulu. Hambatan ini berpotensi membuat bursa sepi peminat dan menurunkan likuiditas perdagangan,” kata Sudirman ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Kamis (8/10/2026).

Kepingan logam nikel dipamerkan di New York Stock Exchange (NYSE)./Bloomberg-Michael Nagle

Bagaimanapun, Sudirman mencatat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menegaskan bahwa—berdasarkan hasil diskusi dengan Bank Indonesai (BI)—transaksi di BMKS  tidak wajib menggunakan rupiah saja, melainkan dapat menggunakan dolar AS.