BI secara eksplisit menyebut penguatan dolar AS dan ketidakpastian pasar global akibat pengetatan moneter agresif sebagai penyebab utama tekanan terhadap rupiah.
Pada Oktober tahun 2024, rupiah melemah paling tajam dalam lima tahun terakhir turun mencapai 3,17%. Rupiah membuka Oktober 2024 di Rp15.200/US$ lalu ditutup di Rp15.697/US$.
Pemicunya adalah tekanan eksternal yang dipicu oleh kekhawatiran investor dengan adanya hambatan perdagangan baru yang diterapkan oleh AS kala itu.
Risiko Inflasi Domestik
Namun, tantangan bagi rupiah kali ini tak cuma datang dari sisi eksternal melalui tingginya yield US Treasury, penguatan dolar AS, harga minyak mentah yang kembali berada di level US$102/barel, dan ketidakpastian geopolitik. Dari dalam negeri, ada tekanan inflasi.
Kemarin (1/10/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September mencapai 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 3,19% pada Agustus. Meskipun angka ini masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5% plus-minus 1%, kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga mulai mendekati batas atas sasaran.
Inflasi pangan meningkat jadi 4,37% yoy dari 3,86%, sementara inflasi transportasi tetap tinggi di level 4,84%. Inflasi bulanan juga meningkat jadi 0,3% (month-to-month/mtm) rai 0,21%. Inflasi bulanan ini menunjukkan adanya tekanan harga jangka pendek yang semakin kuat.
Kenaikan biaya pangan dan transportasi yang terus berlanjut berpotensi membatasi belanja diskresioner, utamanya bagi kelompok rumah tangga berpendapatan rendah.
Risiko inflasi kali ini datang dari dua sumber sekaligus: El Nino dan harga minyak di atas US$100/barel dan berpotensi menjatuhkan performa rupiah.
El Nino semakin mendorong laju inflasi ke atas. Risiko El Nino menjadi salah satu penyebab tingginya kenaikan harga pangan, lantaran produksi pertanian terganggu.
Di sisi lain kenaikan harga energi global juga berpotensi memperpanjang tekanan inflasi melalui sektor transportasi. Data BPS bahkan menunjukkan kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 4,84% yoy, dengan bensin menjadi kontributor terbesar 0,31 poin persentase terhadap inflasi tahunan.
Tekanan Rupiah
Inflasi domestik yang terjadi bersamaan dengan adanya tekanan eksternal membuat langkah rupiah bulan ini kian berat. Inflasi tak cuma berdampak pada daya beli masyarakat tetapi juga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter BI.
Samuel Sekuritas berpendapat, inflasi yang hanya 0,22 poin presentasi di bawah batas atas sasaran membuat ruang untuk menghadapi tambahan guncangan harga jadi makin terbatas.
"Bagi Bank Indonesia, inflasi umum yang lebih tinggi mempersempit fleksibilitas kebijakan meskipun inflasi inti melandai," kata Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas.
Ia menambahkan, ruang untuk pelonggaran kebijakan tampak terbatas, sementara mempertahankan kondisi keuangan yang ketat dapat membebani permintaan kredit dan investasi yang saat ini masih lemah.
"Kami tetap berhati-hati terhadap prospek inflasi hingga akhir 2026. Gangguan lebih lanjut pada pasokan pangan, kenaikan harga energi, dampak El Nino, atau pass-through nilai tukar dapat mendorong inflasi umum menembus batas atas sasaran BI," kata Harry.
Bahkan, Harry menyebut jika inflasi tetap berada dalam sasaran, tekanan berkelanjutan terhadap kebutuhan pokok dapat melemahkan konsumsi rumah tangga.
Kondisi itu membuat dunia usaha menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni biaya yang lebih tinggi dan permintaan yang terbatas, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Kondisi Oktober tahun ini memiliki kemiripan dengan periode 2024 kala rupiah menghadapi tekanan lebih besar lantaran US Treasury berada di level tinggi, dolar AS menguat, dan harga minyak mahal, dengan adanya ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi yang mulai meningkat.
Arah Rupiah & Kebijakan BI
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede memperkirakan pada Oktober ini rupiah masih akan bergejolak di sekitar Rp18.000/US$. Penyebabnya datang dari pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi global, serta harga minyak yang bertahan tinggi lebih lama.
"Tekanan terhadap mata uang ASEAN berlanjut, sementara pemulihan rupiah membutuhkan penurunan tekanan eksternal atau kembalinya aliran modal," kata Josua kepada Bloomberg Technoz.
Meski rupiah diperkirakan akan kembali menyentuh Rp18.000/US$, Josua menilai pelemahan itu tak lantas membuat BI mengerek suku bunga acuan di bulan Oktober.
"Yang menentukan adalah sumber tekanan, kecepatan pelemahan, arus modal, dan dapaknya terhadap inflasi," ujar Josua.
Senada, Jessica Tasijawa dari Mirae Asset memperkirakan BI akan tetap mempertahankan BI Rate 5,75% bulan ini. "Mengingat inflasi masih didominasi faktor supply dan cost-driven, sementara domestic demand belum menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan," sebut Jessica dalam catatannya.
Namun begitu, menurut Jessica risiko inflasi masih cukup besar hingga awal 2027, terutama karena potensi kenaikan harga pangan akibat El Nino, meningkatnya biaya energi, dan ketidakpastian ekonomi global.
Ia menyebut, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) baru akan semakin mungkin jika kenaikan harga berlangsung lebih lama, meluas ke berbagai kebutuhan, dan tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.
(dsp/aji)




























