"Meski sejumlah ambang batas penting telah terlampaui, kami tidak menilai imbal hasil jangka panjang sudah mencapai level yang dapat menstabilkan dirinya sendiri," kata Gilles Moec, kepala ekonom AXA Group.
Berikut 10 faktor yang mendorong aksi jual obligasi global.
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Tetap Kuat
Investor biasanya beralih ke obligasi ketika prospek ekonomi memburuk. Namun, saat ini perekonomian AS masih tumbuh dengan baik dan pertumbuhan global tetap bertahan meski dihadapkan pada perang Iran serta tingginya biaya pinjaman.
Aktivitas bisnis global masih solid. Sejumlah indikator sektor manufaktur menunjukkan pertumbuhan terkuat dalam beberapa tahun terakhir di berbagai negara dengan perekonomian utama.
Ketahanan ekonomi tersebut meningkatkan tekanan inflasi dan risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut. Kondisi ini juga mendorong investor untuk lebih memilih saham dibandingkan obligasi. Inflasi berdampak negatif terhadap obligasi karena mengikis nilai kupon dan pembayaran pokok yang akan diterima investor pada masa mendatang.
"Pertumbuhan ekonomi masih kuat dan, jika melihat data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru, justru semakin menguat," kata Martin Harvey, manajer portofolio pendapatan tetap di Wellington Management. "Saat ini, obligasi bukan instrumen lindung nilai yang baik untuk saham."
2. Kenaikan Harga Komoditas
Perang antara AS dan Iran telah memicu apa yang disebut Goldman Sachs Group Inc sebagai guncangan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$126,41 per barel ketika konflik tersebut menghambat arus energi melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Kondisi ini turut mendongkrak harga gas dan solar sehingga tekanan harga secara umum tetap tinggi.
Pada saat yang sama, harga pangan juga melonjak, salah satunya akibat gelombang panas yang terjadi baru-baru ini.
3. Kenaikan Suku Bunga
Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada September. Para pembuat kebijakan juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lebih lanjut diperlukan karena inflasi masih berada di atas target 2%.
Bank sentral Australia dan Jepang juga telah menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Sementara itu, pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga di Inggris, Kanada, dan Eropa dalam beberapa bulan mendatang.
Sebuah makalah yang baru diterbitkan menemukan bahwa sekitar 90% kenaikan imbal hasil nominal obligasi bertenor 10 tahun sejak Agustus 2020 terjadi di sekitar waktu pengumuman data penggajian nonpertanian AS (nonfarm payrolls) dan pidato pejabat penting The Fed. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa ekspektasi pasar terhadap suku bunga jangka pendek menjadi faktor dominan yang memengaruhi imbal hasil.
Kenaikan biaya pinjaman juga membuat pemilik rumah semakin jarang melakukan pembiayaan ulang atau refinancing. Hal ini memperpanjang durasi obligasi berbasis hipotek dan memaksa sejumlah investor menjual Treasury untuk mengimbangi peningkatan risiko suku bunga yang ditimbulkannya.
4. Utang dan Pembangunan Infrastruktur Perusahaan Teknologi Besar
Persaingan membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) telah memicu lonjakan pinjaman yang menambah derasnya pasokan surat utang di pasar. Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia telah menerbitkan obligasi senilai lebih dari US$400 miliar sepanjang tahun ini untuk mendanai investasi teknologi. Sebagian besar penerbitan tersebut berasal dari AS.
Kondisi ini membuat berbagai pihak yang membutuhkan pendanaan, termasuk pemerintah dan perusahaan yang membiayai merger serta akuisisi, harus bersaing semakin ketat untuk mendapatkan dana investor.
"Pada akhirnya, hal ini seharusnya turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah berkualitas tinggi, seperti Treasury AS, semata-mata akibat melimpahnya pasokan surat utang," tulis Arif Husain, kepala divisi pendapatan tetap global di T. Rowe Price, perusahaan yang mengelola aset senilai US$1,9 triliun.
Analis Barclays Plc mencatat bahwa belanja infrastruktur yang menyusul investasi tersebut menjadi faktor lain yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat meski biaya pinjaman meningkat.
5. Defisit dan Utang Fiskal
Risiko fiskal semakin meningkat akibat defisit anggaran yang terus berlanjut dan keengganan pemerintah untuk benar-benar mengatasinya. Utang AS baru-baru ini untuk pertama kalinya melampaui US$40 triliun.
Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) diperkirakan akan menerbitkan utang bruto senilai US$18 triliun pada tahun ini. Besarnya penerbitan tersebut membanjiri pasar dengan tambahan pasokan obligasi dan mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas pembelian surat utang.
Prancis, misalnya, harus membayar biaya pinjaman yang jauh lebih tinggi seiring investor bersiap menghadapi pemilihan umum tahun depan dan kemungkinan terpilihnya pemerintahan populis yang berpotensi melonggarkan belanja pemerintah.
"Kenaikan imbal hasil jangka panjang di negara-negara maju yang seolah tidak pernah berhenti menjadi faktor lain yang mendorong sejumlah perekonomian negara maju menuju jalur utang yang tidak berkelanjutan," kata Katharine Neiss, wakil kepala divisi ekonomi global PGIM Credit.
Di AS, Steven Blitz, direktur pelaksana bidang makroekonomi global dan strategi di TS Lombard, mengatakan tidak adanya "kemauan politik untuk menerima resesi" membuat kenaikan imbal hasil saat ini belum akan berhenti di level 6%. Menurut dia, imbal hasil bahkan berpotensi mencapai 8% dalam beberapa tahun mendatang.
Imbal hasil acuan Treasury AS bertenor 10 tahun menyentuh 5,31% pada Kamis, level tertinggi sejak pertengahan 2007.
6. Belanja Pertahanan
Belanja militer global telah mencapai rekor tertinggi, didorong oleh perang Iran, konflik yang masih berlangsung di Ukraina, serta tren peningkatan persenjataan di negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO), Timur Tengah, dan Asia.
Anggaran pertahanan AS mencapai US$1 triliun pada tahun fiskal 2026, untuk pertama kalinya melampaui ambang batas tersebut.
Peningkatan belanja militer memperbesar kebutuhan pendanaan pemerintah, mendorong penerbitan lebih banyak obligasi, dan memberikan tekanan tambahan terhadap kenaikan imbal hasil.
7. Dampak Jepang
Jepang menghadapi masalah pelemahan yen dan otoritas negara tersebut kemungkinan menjual obligasi asing untuk mengatasi persoalan itu.
Data cadangan Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan kepemilikan Tokyo atas surat berharga asing turun sebesar US$87,8 miliar pada akhir Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut mencatat rekor dan kemungkinan terjadi karena Jepang menjual Treasury untuk menopang nilai tukar yen.
Intervensi lebih lanjut berpotensi menambah tekanan terhadap pasar obligasi global. Namun, keinginan AS untuk melindungi pasar Treasury dinilai menjadi salah satu alasan Washington membantu Tokyo menopang nilai tukar yen.
Sementara itu, Ed Yardeni, presiden sekaligus kepala strategi investasi Yardeni Research, mengatakan pembalikan posisi dalam strategi yen-funded carry trade juga turut mendorong aksi jual obligasi. Strategi ini dilakukan dengan meminjam yen untuk berinvestasi pada aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Kenaikan suku bunga di Jepang kini "memaksa para pelaku carry trade menjual obligasi pemerintah yang mereka beli di berbagai negara menggunakan dana dari pinjaman yen berbunga rendah," tulisnya.
8. Perang Dagang
Perang dagang yang terus berlangsung di bawah pemerintahan Donald Trump menambah risiko inflasi karena kenaikan tarif membuat harga barang impor semakin mahal dan berpotensi mempertahankan tekanan harga pada level tinggi.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi untuk waktu yang lebih lama sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap kenaikan imbal hasil obligasi.
Sengketa perdagangan juga mencerminkan fragmentasi geopolitik yang semakin dalam dan prospek global yang kian tidak stabil. Dalam situasi tersebut, investor meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian.
9. Perubahan Komposisi Pemegang Obligasi
Di pasar Treasury AS, komposisi pembeli semakin bergeser dari The Fed dan bank sentral asing ke investor swasta domestik maupun asing, termasuk dana lindung nilai (hedge fund).
Bloomberg Economics menghitung bahwa porsi kepemilikan Treasury oleh The Fed dan lembaga resmi asing terhadap produk domestik bruto (PDB) AS masing-masing turun sekitar 12 dan 8 poin persentase sejak 2020.
Peneliti Federal Reserve Bank of New York pada bulan lalu mengatakan bahwa pasar obligasi semakin sensitif terhadap perubahan harga dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut menjelaskan "sebagian signifikan dari perubahan imbal hasil sepanjang sejarah".
10. Berakhirnya Surplus Tabungan Global
Terakhir, surplus tabungan global yang selama puluhan tahun membantu menekan biaya pinjaman kini telah berakhir.
Menurut Oxford Economics, tiga faktor yang menyebabkan kelebihan tabungan global secara persisten sejak krisis keuangan global, yakni penghematan anggaran pemerintah, pengurangan utang di AS, dan ekspor China, kini telah berbalik arah atau terkendala kebijakan proteksionisme.
Tren tersebut terjadi ketika pemerintah dan perusahaan justru membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, para peminjam kembali harus bersaing ketat untuk mendapatkan dana investor, sehingga mendorong imbal hasil obligasi semakin tinggi.
(bbn)





























