Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, ekuitas tersendiri perseroan mengalami perbaikan menjadi US$646,15 juta pada 30 Juni 2026.

Adapun, saham GMFI akan dialihkan lebih dahulu dari PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, kemudian dialihkan kepada DAM melalui mekanisme pembagian dividen non-tunai atau dividend in specie.

Sementara itu, bagian pelaksanaan rights issue yang berasal dari porsi publik atau masyarakat akan disetorkapan kepada perseroan dalam bentuk tunai.

Belakangan, GIAA menunjuk KJPP Areyanti Zainab dan Rekan untuk menilai kewajaran rencana inbreng saham GMFI tersebut.

KJPP Areyanti Zainab dan Rekan berpendapat nilai pasar saham GMFi per 30 Juni 2026 sebesar Rp8,65 triliun.

Berdasarkan proyeksi keuangan GMFI Tahun 2026-2030, laba bersih GMFI diproyeksikan terus mengalami peningkatan, di maan pada 2026 laba bersih diproyeksikan sebesar US$35,09 juta, meningkat menjadi US$36,34 juta pada tahun 2027, US$43,47 juta pada 2028, US$47,21 juta pada 2029 dan US$50,05 juta pada akhir periode 2030.

Secara kumulatif, laba bersih GMFI selama periode 2026-2030 diproyeksikan mencapai sektiar US$212,16 juta.

Lewat inbreng saham itu, GIAA memiliki tambahan bagian atas laba bersih GMFI sekitar US$139,54 juta selama 2026-2030. Mgningat GMFI telah dikonsolidasikan sebelumnya, inbreng saham ini akan tercermin pada peningkatan bagian laba GMFI ke Garuda Indonesia.

Manajemen GIAA akan meminta persetujuan pemegang saham lewat RUPSLB yang akan digelar pada 6 November 2026.

Keuangan GIAA

GIAA membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit dan memangkas rugi bersih sepanjang semester I 2026, meski harga avtur melonjak tajam.

Kinerja itu sejalan dengan pemulihan armada perseroan. Hingga Juni 2026, jumlah armada operasional Garuda mencapai 104 pesawat.

GIAA mengantongi pendapatan US$1,80 miliar sepanjang Januari–Juni 2026. Angka itu naik 16,0% secara tahunan (year on year/yoy) dari US$1,55 miliar pada semester I 2025. Penerbangan berjadwal masih menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan US$1,31 miliar, naik 10,9% yoy. Dari pos ini, pendapatan penumpang naik 11,5% menjadi US$1,23 miliar.

Sementara itu, rugi bersih GIAA menyusut 23,2% menjadi US$113,0 juta dari US$147,1 juta pada semester I 2025. Meski rugi menyempit, GIAA belum keluar dari zona merah.

Salah satu penopang perbaikan adalah beban keuangan yang turun 11,6% menjadi US$222,4 juta dari US$251,6 juta.

Beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, hingga utang usaha seluruhnya lebih rendah dibanding tahun lalu. Penurunan ini tak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun pada Desember 2025.

Tak lama setelah dana itu masuk, anak usaha Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025.

Hasilnya, beban keuangan grup kepada Pertamina turun menjadi US$4,7 juta dari US$11,8 juta setahun sebelumnya. Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi US$6,6 juta.

(naw)

No more pages