Logo Bloomberg Technoz

Sebab, secara historis PMI manufaktur Indonesia kerap bergerak naik-turun secara tajam belum terlihat pergerakan yang stabil dan berkelanjutan. 

Korea Selatan Ditopang Semikonduktor

Sementara itu, perbaikan yang lebih kuat terlihat di Korea Selatan, dengan PMI manufaktur naik dari 52,3 menjadi 53,9, dengan pesanan baru meningkat untuk bulan ke-10 beruntun. Angka itu juga merupakan laju tercepat sejak Februari 2021.

PMI Manufaktur Korea Selatan (Bloomberg)

Permintaan yang lebih kuat itu utamanya datang dari meningkatnya kepercayaan di sektor semikonduktor dan otomotif Korea.

Jika Indonesia mendapat sokongan dari permintaan domestik lewat konsumsi, Korea Selatan, yang sudah terhubung dengan rantai pasok global, mendapat keuntungan lebih besar dari industri teknologi dunia, terutama semikonduktor. 

Bahkan pada Agustus, ekspor manufaktur Korea Selatan sudah mencapai pertumbuhan yang kuat, S&P menyebut ditopang oleh oleh siklus kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor. 

Thailand Masih Ekspansif

Selain Indonesia dan Korea Selatan, Thailand juga masih mempertahankan ekspansi yang kuat, dengan Indeks manufaktur PMI naik dari 53,8 di Agustus, jadi 54,3 di September. 

PMI Thailand September 2026. (Bloomberg)

Thailand juga mendapat dukungan dari sisi fundamental eksternal. Ekspor Juli tumbuh 21,6% secara tahunan, terutama didorong ekspor elektronik dan peralatan listrik. Prospek ekspor juga mendapat dukungan dari investasi berbasis AI.

Meski begitu, Thailand juga masih memiliki risiko dari adanya tarif AS, ketidakpastian perdagangan dan perlambatan konsumsi domestiknya, setelah stimulus berakhir. 

Taiwan dan China

Di Taiwan, aktivitas manufaktur menguat siginfikan dengan PMI manufaktir melonjak jadi 56,7 dari 54,7, sekaligus mencatat level tertinggi sejak Agustus 2021, dan memperpanjang ekspansi menjadi 10 bulan beruntun.

Penguatan ini juga terlihat pada output yang ikut naik jadi 57,4 dari 54,8. Sementara pesanan baru meningkat ke level tertinggi sejak Juli 2021. Tak heran, Taiwan merupakan salah satu pusat utama industri semikonduktor global, terutamam untuk chip berteknologi tinggi dalam AI dan server.

Kinerja ini ditopang oleh kuatnya permintaan teknologi global, yang tercermin dari pesanan ekspor Taiwan pada Agustus yang menembus US$102,96 miliar untuk pertama kalinya, melonjak 71,4% secara tahunan. Pemerintah Taiwan menyebut kuatnya permintaan server AI dan chip ASIC jadi pendorong utama kinerja ini. 

Momentum serupa juga terjadi di China, dengan PMI manufaktur versi RatingDog yang meningkat adi 52,1 pada September dari 51,5 di Agustus. 

Penguatan manufaktur kedua negara ini menunjukkan bahwa industri teknologi dan adanya permintaan eksternal jadi penopang utama industri manufaktur, walaupun kawasan ini menghadapi ketidakpastian perdagangan dengan adanya perang tarif. 

Vietnam Hilang Momentum

Sebaliknya, Vietnam sedang kehilangan momentum dengan penurunan Indeks manufaktur PMI yang tajam jadi 51,9 dari 53,3, meskipun masih berada di zona ekspansi. 

Produksi tetap meningkat, dan bahkan mencatat pertumbuhan yang cukup kuat, namun laju pertumbuhan pesanan baru melambat dan jadi yang terlemah dalam lima bulan terakhir. 

Pelemahan ini sejalan dengan kondisi perekonomian global yang mulai kehilangan tenaga. Sebab, model pertumbuhan ekonomi Vietnam bertumpu pada manufaktur yang berorientasi ekspor dan terintegrasi dengan rantai pasok global. 

Malaysia & Filipina di Zona Kontraksi

PMI manufaktur Malaysia. (Bloomberg)

Sebaliknya, Malaysia dan Filipina masuk ke zona kontraksi.  Indeks manufaktur PMI Malaysia turun jadi 49,9 dari 50,9. Penyebab utamanya datang dari adanya perlambatan pesanan baru akibat lemahnya permintaan domestik. Meski begitu, pesanan ekspor negara tetangga ini justru meningkat dari 38% ke 45,5% dan memberikan bantalan.

Sementara, Indeks manufaktur PMI Filipina jatuh dari 54,9 menjadi 49,6. Produksi turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, sementara perusahaan banyak melaporkan berkurangnya pesanan baru dan meningkatnya tekanan kompetisi internasional. 

Padahal, sebulan sebelumnya angka indeks manufaktur PMI Filipina ini sangat tinggi dan mencatat pertumbuhan terkuat sejak 2016, tertopang oleh pesanan baru, ekspor dan produksi. Angka PMI yang berbalik arah dalam waktu cepat itu menunjukkan bahwa manufaktur Filipina belum ditopang oleh pemulihan struktural untuk pertumbuhan PMI yang lebih berkelanjutan. 

Tekanan Global

Pemulihan Indeks manufaktur PMI sebagian negara Asia menggambarkan bahwa aktivitas industri Asia masih bergeliat. Namun, pemulihannya belum merata dan berlangsung di tengah lingkungan global yang penuh ketidakpastian. 

Selain itu, rezim perdagangan global juga masih berhadapan dengan tarif Amerika Serikat (AS) yang relatif tinggi.

S&P memperkirakan tarif efektif rata-rata AS pada Juli 2026 sektiar 21,4% untuk China, dan 13,7% untuk Indonesia. Sementara, sejumlah negara Asia lainnya mendapatkan tarif yang berbeda-beda, di kisaran 2%-11%. 

Perang dagang dan pengenaan tarif ini berpotensi mengubah pola rantai pasok di kawasan Asia. Sebab, tarif bukan hanya meningkatkan biaya input, tapi juga berpotensi mengubah lokasi produksi, dan mendorong perusahaan mencari pasar alternatif, sekaligus memicu front-loading atau percepatan pengiriman sebelum tarif diberlakukan. 

Argumen itu diperkuat oleh riset dari ADB yang menyebut bahwa negara-negara Asia sebelumnya mampu meredam sebagian dampak tarif AS dengan mengalihkan perdagangan ke sesama negara Asia dan pasar lain. 

Tapi setidaknya, pertemuan AS-China akhir September kemarin telah mencakup pengurangan tarif atas sebagian barang dan perpanjangan gencatan tarif selama dua bulan. Hal ini memberi ruang bagi perdagangan global, walau implementasinya mungkin masih terbatas. 

Dengan adanya perang tarif namun besarnya potensi dari tingginya rantai pasok ditopang oleh sektor teknologi, bisa dikatakan bahwa wajah ekonomi global kini berada di dua sisi.

Pertama, aktivitas manufaktur mendapat dukungan dari perkembangan industri teknologi, dan adanya diversifikasi rantai pasok, dan permintaan domestik di kawasan Asia. Ini membuka peluang bagi sejumlah negara Asia untuk mengambil peran baru dalam rantai pasok global, terutama di sektor elektronik, semikonduktor dan teknologi, seperti yang dilakukan Malaysia sebagai pendatang baru. 

Kedua, biaya energi yang tinggi menjadi salah satu risiko utama. Harga Brent yang volatil akibat ketidakpastian resolusi konflik Timur Tengah, sementara yield US Treasury 10 tahun berada di sekitar 5%, membuat tekanan inflasi dan biaya pendanaan jadi lebih tinggi.

Tingginya suku bunga ini berpotensi mempersempit ruang perusahaan untuk meningkatkan investasi sekaligus menambah tekanan terhadap inflasi dan meningkatkan ongkos produksi yang pada akhirnya dapat menggerus margin keuntungan. 

Meski risiko terhadap pertumbuhan meningkat, S&P Global menilai kondisi global masih relatif tangguh. 

(dsp/aji)

No more pages