"Keputusan ini tetap konsisten di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2,5% plus minus 1% pada tahun 2026-2026 serta mendorong pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan," kata Destry Damayanti, Gubernur BI, dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Lebih lanjut, Destry mengatakan BI akan terus memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas.
Sementara, BI juga masih akan melanjutkan kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat guna meningkatkan kredit pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan," papar Destry.
Lebih lanjut, Destry juga mengatakan BI berkomitmen menjaga kecukupan likuiditas rupiah dengan mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing guna memperkuat nilai tukar rupiah. Termasuk di pasar NDF, spot dan DNDF.
Selain itu, BI juga akan mengelola struktur suku bunga di pasar uang sejakan dengan kebijakan BI Rate dan suku bunga instrumen operasi moneter pro market disertai strategi operasi moneter pro market.
BI juga akan meningkatkan insentif swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup portofolio inflow, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI).
"Melalui pengurangan premi pengurangan 12,5% untuk semua tenor, menjadi sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan dan 25% untuk tenor 12 bulan," kata Destry.
(dsp)





























