Menguatnya IHSG merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps.
Deretan saham unggulan, Rabu (23/9/2026) sepanjang Sesi I, berdasarkan data Bloomberg.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyumbang 4,58 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 3,8 poin
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menyumbang 3,45 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyumbang 3,01 poin
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 2,47 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyumbang 2,46 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 2,24 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 2,21 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 1,94 poin
- PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menyumbang 1,34 poin
Perhatian investor tertuju dan berfokus melihat MH Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia (BI) berada. Gubernur Destry Damayanti dan sejawat sudah menggelar pertemuan sedari kemarin, dan akan mengumumkan hasil RDG, pada siang hari nanti.
Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak 22–23 September 2026 dan diagendakan mengumumkan keputusan siang nanti pada 14.00 WIB, diprediksi akan menghasilkan vonis tahan, hold, untuk BI Rate tetap di level 5,75%.
Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg, sebanyak 36 ekonom/analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan dipertahankan tetap di level 5,75%, median estimate.
Pasar juga mencermati komunikasi dan arah kebijakan BI setelah keputusan suku bunga acuan BI Rate nanti, sebab seringkali tersemat pesan penting bagi pembentukan ekspektasi pasar.
Jika benar Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate tetap di level 5,75%, tetapi memberi sinyal stabilisasi rupiah tetap jadi prioritas dan instrumen intervensi terus dioptimalkan, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi mereda.
Mirae Asset Sekuritas menyebut, pasar secara umum memperkirakan BI Rate dipertahankan di level tetap 5,75%, sehingga perhatian market kemungkinan bukan hanya pada keputusan suku bunga, tetapi terutama pada statement dan forward guidance BI terkait pelemahan rupiah, stabilitas pasar keuangan, serta respons terhadap tingginya yield global.
(fad)




























