Logo Bloomberg Technoz

Walhasil, ketersediaan air untuk pendinginan serta perlindungan peralatan menjadi kurang.

“Tingkat operasional aktual akan terus bergantung pada kondisi cuaca dan pasokan air, dan SMM akan terus memantau perkembangan lebih lanjut,” tegas SMM.

Sebelumnya, PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter di kawasan mengalami penurunan produksi, termasuk pabrik RKEF yang memproduksi NPI.

Kendati begitu, IMIP mengklaim masih menghitung penurunan produksi dari setiap perusahaan di kawasan dan belum dapat mengonfirmasi produksi NPI dari kawasan IMIP turun sekitar 100.000 ton—seperti yang dikabarkan Bloomberg News.

Saat dimintai konfirmasi, Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menerangkan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penurunan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.

Dia mengungkapkan PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.

“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun mengenai jumlah penurunannya kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy kepada Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).

Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.

Dedy menambahkan, pada proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.

“Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di Kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini,” kata Dedy.

Adapun, PT IMIP dikabarkan telah menginformasikan perusahaan di kawasannya pada akhir pekan lalu untuk mengurangi produksi NPI gegara kekurangan air.

Volume produksi NPI yang terdampak pemangkasan ini diperkirakan mencapai sekitar 100.000 ton, kata beberapa sumber tersebut kepada Bloomberg.

Sebagai perbandingan, kapasitas produksi terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun atau sekitar 350.000 ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.

Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.

Dedy tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).

Dalam perkembangannya, smelter HPAL milik Nickel Industries Limited di IMIP mengalami kendala proses peningkatan produksi atau ramp up sebab pasokan air tak mencukupi terimbas fenomena El Niño.

Dalam pengumuman resminya, Nickel Industries mengungkapkan proyek excelsior nickel cobalt (ENC) tersebut telah mencapai tingkat produksi sekitar 50% dari kapasitas terpasang dalam waktu empat pekan sejak dimulai komisioning.

Dengan kondisi kekeringan yang terjadi, proyek ENC diperkirakan baru bisa beroperasi sekitar 30% dari kapasitas terpasang hingga ketersediaan air kembali normal.

“Kondisi kering di Sulawesi Tengah merupakan kendala yang tidak biasa dan bersifat sementara terhadap pasokan air, dan kami memperkirakan ketersediaan air akan kembali normal seiring dimulainya musim hujan,” kata Managing Director Justin Werner dalam pengumuman resminya, Selasa (15/9/2026).

Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk nikel secara volume mengalami penurunan sebesar 12,14% secara year on year (yoy), dari 1,11 juta ton pada Januari—Juni 2025 menjadi 1,06 juta ton pada Januari—Juni 2026.

Meski begitu, nilai ekspor produk nikel sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$6,54 miliar, naik 69,30%, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu senilai US$4 miliar.

"Nikel dan barang daripadanya mengalami kenaikan nilai ekspor 69,30%, meski volumenya turun 12,14%," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, medio Agustus.

Ekspor produk nikel yang tercatat dalam kode HS 75 (nickel and articles thereof) tercatat paling banyak dikirim ke China dengan volume sekitar 982,47 ribu ton atau setara 92,64% dari total ekspor produk nikel Indonesia pada periode tersebut.

(azr/wdh)

No more pages