Sementara itu, investor asing net buy terbesar pada saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencapai Rp36,88 miliar. Berseberangan jauh dengan tren pembelian, saham TAPG justru amblas 5,99% hingga berada di posisi Rp2.040/saham.
Berikut 10 saham dengan net buy tertinggi yang paling jadi incaran oleh investor asing sepanjang perdagangan Selasa (22/9/2026):
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Rp36,88 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp30,33 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp27,6 miliar
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp25,23 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp24,11 miliar
- PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp22,41 miliar
- PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) Rp21,73 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp21,59 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp19,9 miliar
- PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Rp19,02 miliar
Sikap Wait and See Jelang Keputusan BI Rate
Perhatian investor amat tertuju dan berfokus ke Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia (BI) berada, setelah menggelar pertemuan dua hari, dan akan mengumumkan hasil RDG pada siang hari nanti, Rabu (23/9/2026).
Yang jadi perhatian, rapat ini merupakan RDG perdana setelah bank–bank sentral negara utama seperti Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengambil langkah hawkish dan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4%. Seiringan dengan bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB), yang mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 2,5%. Hal yang sama juga ditempuh bank sentral Jepang (BoJ).
Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak Selasa–Rabu, 22–23 September 2026 dan diagendakan mengumumkan keputusan siang nanti, diprediksi akan menghasilkan vonis tahan, hold, untuk BI Rate tetap berada di level 5,75%.
Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg, sebanyak 36 ekonom/analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan dipertahankan tetap di level 5,75%.
Namun yang menjadi perhatian, 3 orang ekonom memprediksi adanya kenaikan 25 basis poin menjadi 6%. Salah satu ekonom yang memperkirakan BI Rate akan naik adalah David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Ia memproyeksikan BI rate akan naik 25 bps lantaran tekanan terhadap rupiah kembali meningkat. “Bank sentral global seperti The Fed dan BoJ juga menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia,” tutur David kepada Bloomberg Technoz. Terlebih, sampai tutup tahun nanti BI Rate diperkirakan masih ada peluang naik 25-50 bps seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed Rate sekali lagi pada Desember.
Menelisik lebih jauh, sepanjang September ini, pergerakan rupiah memang terbilang volatil dengan pelemahan 0,85%, month–to–date (mtd) hingga Selasa (22/9/2026), ditengarai imbas outflow investor asing di pasar global.
Terlebih jika dibanding dengan tren pelemahan yang terjadi pada mata uang regional, penurunan nilai tukar rupiah terbilang amat lesu daripada mata uang lainnya, ada di posisi dua terendah yang hanya bersanding dengan ringgit Malaysia yang melemah 1% mtd. Bahkan jika disanding dengan data year–to–date (ytd) nilai tukar rupiah amat tertinggal jauh dengan tren pelemahan mencapai 6,61%.
(fad)





























