Proyeksi David sejalan dengan Sanjay Mathur dari ANZ Bank dan Fikri C. Permana dari KB Valbury Sekuritas.
Berbeda pandangan, sebagian besar ekonom dan analis lainnya justru memperkirakan BI Rate tetap berada di 5,75%. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian berpendapat bahwa stabilisasi rupiah tidak harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga.
Fakhrul menilai, dtengah tingginya yield global, harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan moneter global, BI perlu semakin mengoptimalkan instrumen FX swap, DNDF, serta pengelolaan likuiditas dan arus modal asing.
"Tidak semua masalah rupiah harus dibayar dengan suku bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Kalau sumber tekanannya terutama berasal dari global yield, minyak, dan tingginya risiko valuta asing, maka instrumennya juga harus lebih spesifik terhadap sumber masalah tersebut," terang Fakhrul.
Senada, Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai kenaikan suku bunga sebesar 100 bps pada Mei-Juni telah cukup mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia, meski perang AS-Iran semakin intensif, harga minyak global meningkat dan imbal hasil obligasi AS naik.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS sejak akhir Juli hingga pertengahan September dan mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya," kata Henderson.
Sementara Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede berpandangan peluang BI mempertahankan 5,75% relatif tinggi, dengan adanya penguatan rupiah pada Agustus, perbaikan cadangan devisa, surplus perdagangan, serta transmisi suku bunga pasar uang yang membaik. Josua menilai BI memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Instrumen pertama yang menurut saya harus lebih aktif digunakan adalah stabilisasi rupiah melalui intervensi valuta asing, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri, melalui transaksi tunai dan kontrak berjangka tanpa penyerahan valuta asing," kata Josua.
Josua menambahkan, saat ini BI telah menggunakan kombinasi tersebut untuk mengurangi gejolak rupiah tanpa mengubah suku bunga kebijakan.
Instrumen Selain Suku Bunga
Upaya BI dalam menjaga rupiah kini tak cuma bersandar pada instrumen suku bunga. Seperti dikatakan Fakhrul, jika sumber tekanannya terutama berasal dari yield, minyak, dan tingginya risiko valuta asing, maka instrumennya mengarah pada sumber masalah tersebut secara spesifik.
Fakhrul mengatakan BI sebenarnya telah bergerak ke arah tersebut.
"Pada Agustus lalu, BI mempertahankan BI Rate di 5,75% sekaligus memperluas insentif pengurangan premi FX swap sebesar 12,5%, dari sebelumnya hanya untuk portfolio inflows menjadi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan FDI," kata Fakhrul.
Ia mengatakan hal ini pernah dilakukan bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), yang menggunakan fasilitas swap konsensional untuk menarik pendanaan valuta asing baru dengan memberikan terms hedging yang sangat menarik dana dalam waktu tertentu.
Menurut Fakhrul, Indonesia tidak perlu menyalin kebijakan India secara utuh. BI dapat mempertimbangkan peningkatan sementara atas fasilitas hedging yang sudah ada, khusus untuk dana segar dengan karakteristik tertentu. Fasilitas tersebut sebaiknya bersifat sementara (temporary), memiliki batas maksimal (capped), dan diberikan dengan mempertimbangkan jangka waktu pendanaan (duration-sensitive).
Artinya, sumber dana luar negeri yang lebih stabil dan berjangka panjang, seperti pinjaman jangka panjang perbankan, pendanaan dari perusahaan induk, serta investasi langsung (FDI) dan investasi portofolio jangka panjang, dapat diberikan insentif yang lebih besar dibandingkan dana asing yang masuk hanya untuk jangka pendek.
“Prinsipnya sederhana: semakin lama modal bersedia tinggal di Indonesia, semakin besar currency-risk intermediation yang dapat diberikan BI. Desainnya bisa berupa short entry window, longer holding incentive, dan staggered exit,” kata Fakhrul.
Sementara menurut Josua, BI masih punya cukup bantalan dalam bentuk cadangan devisa untuk mencegah pelemahan rupiah yang terlalu cepat.
Selanjutnya, Josua menambahkan BI juga masih memiliki daya tarik Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan struktur sukubunga operasi moneter.
"BI tidak harus menaikkan BI Rate untuk membuat aset rupiah tetap kompetitif terhadap dolar. Tingkat imbal hasil dan tenor instrumen moneter dapat dikalibrasi agar tetap menarik aliran modal asing sekaligus menyerap kelebihan likuiditas yang berpotensi masuk ke permintaan valuta asing," ujar Josua.
Untuk diketahui, posisi SRBI pada 18 September masih sekitar Rp1.013 triliun. Sehingga, menurut Josua instrumen ini tetap mempunyai peran besar dalam bauran kebijakan BI.
Namun begitu, Josua memberi catatan bahwa strategi ini tetap punya batas. Sebab, jika BI harus menaikkan imbal hasil SRBI terlalu tinggi hanya untuk mempertahankan rupiah, kondisi pembiayaan domestik pada akhirnya tetap mengetat meskipun BI-Rate tidak berubah.
Instrumen lainnya berpotensi dicoba adalah kebijakan makroprudensial yang bisa tetap diarahkan mendukung pembiayaan sektor produktif.
"BI sudah menggunakan insentif likuiditas makroprudensial, pelonggaran rasio pembiayaan properti, perluasan surat berharga korporasi yang diperhitungkan dalam rasio intermediasi, serta peningkatan batas pendanaan luar negeri perbankan," kata Josua.
(dsp/aji)





























