Besarnya utang AS ini menjadi salah satu titik perhatian IMF. Lembaga moneter internasional ini memproyeksikan defisit AS pada 2026 mencapai 7,5%. Meski data terkini masih berada di 5,55%.
Dalam Fiscal Monitor edisi April 2026, bahkan IMF memperkirakan utang publik global yang pada 2025 sudah mendekati 94% terhadap PDB dunia akan terus meningkat hingga mencapai 100% PDB pada 2029.
Peningkatan itu terutama didorong oleh negara dengan perekonomian besar, termasuk China. Utang publik China juga menjadi salah satu sumber kekhawatiran IMF. Mengacu dokumen yang sama, total utang pemerintah (general government gross debt) China diperkirakan mencapai 99,2% terhadap PDB pada 2025, naik 90,4% dari posisi 2024.
Rasio itu juga diproyeksikan meningkat menjadi 106,9% pada 2026, dan hampir 127% pada 2031 mendatang. Angka ini menunjukkan bahwa dalam ukuran IMF, utang pemerintah China sebenarnya sudah mendekati, bahkan melampaui ukuran ekonominya sendiri.
Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan seluruh beban pembiayaan yang terkait dengan pemerintah China.
IMF juga menghitung besaran augmented debt, yaitu ukuran utang yang lebih luas dengan memasukkan utang pemerintah daerah dan perusahaan pembiayaan daerah atau local government financing vehicles (LGFV). Jika memasukkan ukuran ini, maka utang China diperkirakan mencapai 126,6% dari PDB 2025.
IMF juga menilai bahwa tekanan tidak cuma datang dari bertambahnya stok utang. Di era suku bunga tinggi seperti sekarang, beban bunga berpotensi meningkat. IMF mencatat pengeluaran bunga pemerintah secara global naik dari sekitar 2% menjadi hampir 3% terhadap PDB hanya dalam empat tahun.
"Dinamika utang publik global masih kurang menguntungkan. Meskipun peningkatan utang terutama terkonsentrasi di China dan AS, kerentanan tersebut tetap tersebar luas," sebut IMF dalam Laporan Fiscal Moneter, edisi April 2026.
Lebih lanjut, IMF menyebut banyak negara di berbagai tingkat pendapatan menghadapi tingkat utang yang tinggi dan dinamika utang yang tidak menguntungkan.
Kondisi ini membuat negara-negara itu jadi lebih rentan terhadap pengetatan kondisi pembiayaan dan memiliki ruang yang lebih terbatas untuk merespons guncangan di masa depan.
Jika negara adidaya seperti AS dan negara dengan ekonomi besar seperti China mencatat utang sebesar itu, bagaimana dengan negara lainnya?
Asia Tenggara
Di antara negara Asia Tenggara, Indonesia masih menunjukkan defisit fiskal yang relatif stabil. Defisit pemerintah tercatat 1,6% dari PDB pada 2023, lalu melebar menjadi 2,3% pada 2024, dan 2,9% pada 2025.
IMF memperkirakan defisit tetap sekitar 2,9% dari PDB pada 2026-2029, sebelum sedikit menyempit pada 2030-2031. Dengan begitu, posisi fiskal dalam proyeksi IMF cenderung stabil, tanpa perubahan besar hingga 2031.
Adapun Malaysia sempat mencatat defisit sebesar 4,1% PDB pada 2023, lalu menyempit menjadi 3,4% pada 2024 dan 3,5% pada 2025. IMF memperkirakan defisit Malaysia terus mengecil menjadi 3,3% pada 2026, 3% pada 2027, dan sekitar 2,7% mulai 2028 hingga 2031. Artinya, arah konsolidasi fiskal Malaysia dalam proyeksi IMF agaknya lebih terlihat dibanding Indonesia.
Sementara, Filipina juga diproyeksikan mengalami perbaikan fiskal secara bertahap. Defisit sebesar 4,4% pada 2023 dan 2024 diperkirakan turun menjadi 4% pada 2025, 3,7% pada 2026, kemudian turun lagi menjadi 2,8% pada 2027 dan 2,5% pada 2028.
Pada 2029, defisit fiskal Filipina diperkirakan makin mengecil menjadi 2,1%, lalu turun lagi jadi 1,6% pada 2030, dan 1,5% pada 2031. Ini menggambarkan bahwa Filipina menjadi salah satu negara yang diproyeksikan akan mengalami penurunan defisit paling konsisten di kawasan.
Sedangkan, Thailand justru tercatat memiliki defisit yang lebih kecil daripada Malaysia dan Filipina. Karena angkanya sudah lebih sempit, sehingga perbaikannya jadi relatif terbatas. Defisit pemeirntah Thailand berada di 1,9% PDB pada 2023, membaik jadi 1,3% pada 2024, sebelum kembali melebar 1,9% pada 2025.
IMF memperkirakan defisit Thailand mencapai 2,2% pada 2026. Kemudian, sedikit membaik jadi 1,9% pada 2027, tetap kembali berada di sekitar 2%-2,2% PDB pada 2028-2031.
Adapun Vietnam relatif stabil dan berada jauh lebih sempit daripada negara lain di kawasan Asia Tenggara. Defisit fiskalnya tercatat 1,7% PDB pada 2023, dan 1,5% pada 2024, kemudian melebar menjadi 2,2% pada 2025. Setelah itu IMF memperkirakan defisit makin menyempit menjadi 2% pada 2026, lalu 1,6% pada 2027, 1,4% pada 2028, dan bertahan sekitar 1,3% PDB pada 2029-2031.
Negara Lainnya
Defisit fiskal pemerintah China tercatat 6,7% PDB pada 2023, lalu melembar menjadi 7,1% pada 2024, dan 7,9% pada 2025. IMF memperkirakan defisit semakin lebar menjadi 8,2% pada 2026, mencapai 8,4% pada 2027, sebelum sedikit membaik jadi 8,2% pada 2028 dan 8% pada 2029 hingga 2031.
Jika AS menghadapi defisit fiskal sekitar 7-8% PDB, China juga menghadapi persoalan fiskal dengan besaran sebanding, bahkan lebih besar dalam beberapa tahun proyeksi. IMF secara khusus memperingatkan bahwa defisit primer China yang besar dan persisten berpotensi mempersempit ruang fiskalnya.
Sementara, Korea Selatan diproyeksikan mengalami defisit lebih sempit. Tahun 2023, defisit Korea berada di 0,7%, lalu 2025 melebar ke 1,4%-1,5% hingga 2026. Namun, tahun 2028, defisit fiskal Korea Selatan diperkirakan kembali menyempit jadi 1,3% dan 1,1% pada 2031.
Sedangkan defisit fiskal Jepang, justru menunjukkan risiko pelebaran setelah sempat membaik pada 2025. IMF memperkirakan tahun 2026, defisit Jepang akan berada di 2,8% melebar dari 1,1% pada 2025. Lalu, 2028 akan kembali melebar 2,9% hingga 2031 jadi 4%.
Di antara semua negara, hanya Singapura yang mencatat surplus secara konsisten. IMF mencatat pada 2023 Singapura mengalami surplus 3,4%, lalu pada 2025 naik lagi jadi 4,2%, dan 2026 sedikit menyusut namun tetap surplus di 3,3%.
Di tengah tekanan suku bunga global, IMF memproyeksikan posisi fiskal Singapura akan tergerus meski tetap positif. Pada 2028, IMF memperkirakan fiskal negara tetangga ini berada ddi 2,5%, lalu jadi 1,8% pada 2031.
Data yang dirangkum IMF mencatat posisi fiskal yang beragam di antara negara utama dan negara emerging markets. Perbedaan ini menunjukkan bukan soal berapa besar utangnya, tapi juga berapa besar pemerintah harus berutang untuk menambal defisit setiap tahun.
Kala negara adidaya dengan ekonomi maju seperti AS dan China saja diproyeksikan mengalami defisit sekitar 7-8% dari ukuran ekonominya, kebutuhan mereka untuk mencai pembiayaan akan tetap besar, dan berpotensi memengaruhi pasar keuangan dunia serta aliran modal investor global di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
(dsp/aji)































