Infrastruktur energi kritis, termasuk jaringan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang vital, baru-baru ini menjadi sasaran serangan, sehingga memicu kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan.
"Menurut pandangan kami, pasar sedang dalam kondisi tegang," ujar para analis dalam catatan yang banyak dikutip oleh pelaku pasar pada Kamis. Nilai wajar minyak pada September diperkirakan sekitar US$90 per barel meski harga saat ini mendekati US$106.
Para analis menambahkan bahwa angka tersebut mengindikasikan pasar telah memperhitungkan risiko hilangnya pasokan tambahan sebesar 4 juta barel per hari, di luar gangguan pasokan sebesar 10 juta barel per hari yang terjadi sebelumnya.
"Tanpa sinyal yang jelas baik dari AS maupun Iran bahwa mereka siap meredakan ketegangan—dan tanpa terobosan diplomatik pada 24 September, saat Presiden Trump dan Presiden Xi dijadwalkan bertemu di Washington DC—asumsi bahwa gangguan ini bersifat sementara semakin sulit dipertahankan," tulis para analis.
Cadangan minyak global telah menipis selama konflik berlangsung, tetapi untuk saat ini, masih ada cadangan yang cukup untuk menahan kenaikan harga minyak mentah lebih lanjut, kata mereka.
Kendati demikian, jika aliran pasokan dari Timur Tengah tetap di level saat ini, perusahaan memperkirakan harga pada kuartal keempat dan Desember 2026 bisa lebih tinggi US$7 dan US$8 dibandingkan perkiraan saat ini yang masing-masing di kisaran US$80 dan US$78 per barel.
(bbn)






























