Dengan laju ini, dunia sedang menuju kenaikan suhu antara 2,5°C dan 3°C pada tahun 2050, katanya, merujuk pada skenario IPCC.
Laporan Energy Outlook ExxonMobil biasanya menunjukkan permintaan yang kuat terhadap minyak dan gas alam selama beberapa dekade ke depan, meski dunia sedang berupaya mengurangi emisi.
Meski pendekatan semacam itu mungkin terlihat mementingkan diri sendiri, perusahaan eksplorasi minyak ini menegaskan perkiraannya didasarkan pada data ilmiah dan ekonomi yang memperhitungkan perubahan realistis dalam kebijakan pemerintah dan perilaku konsumen.
Penghentian bertahap penggunaan batu bara, bahan bakar fosil paling kotor, menjadi fokus utama konferensi COP PBB setidaknya selama lima tahun terakhir, demi beralih ke alternatif lebih bersih seperti gas alam, tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga nuklir.
Namun, karena harga gas alam cair (LNG) meningkat dan sifat intermiten dari beberapa sumber energi terbarukan, batu bara tetap menjadi sumber energi utama bagi banyak negara, terutama di Asia.
"Kami melihat tanda-tanda jelas bahwa batu bara akan bertahan lebih lama dari perspektif ketahanan energi dan aspek lainnya, khususnya di beberapa wilayah Asia-Pasifik, China, dan negara-negara lain," kata Joshi.
Batu bara juga mendapat dukungan di AS dari pemerintahan Trump, yang "mengakhiri perang terhadap batu bara bersih yang indah," menurut Wakil Menteri Energi AS Kyle Haustveit. "Batu bara masih jauh lebih dominan sebagai sumber bahan bakar terbesar untuk pembangkit listrik, dan itu bagus."
Perubahan lain dalam proyeksi ExxonMobil mencakup berkurangnya teknologi pengurangan emisi. Proyeksi untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), serta penggunaan hidrogen rendah karbon, turun sekitar sepertiga dibandingkan tahun lalu.
"Pada dasarnya, laju perkembangannya melambat dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya, hal ini disebabkan oleh masalah keterjangkauan biaya dan kurangnya kesediaan untuk membayar," ujar Joshi.
ExxonMobil juga memprediksi permintaan listrik secara global akan meningkat 65% pada tahun 2050, terutama didorong oleh pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.
Porsi konsumsi listrik oleh pusat data di AS diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan, tetapi sektor ini menghadapi berbagai hambatan besar.
"Kami memang melihat kendala nyata terkait pasokan cip, infrastruktur listrik, dan pada dasarnya laju serta kecepatan proses perizinan proyek-proyek ini," kata Joshi.
(bbn)






























