Memang sudah diperkirakan peluang RUU pelonggaran aset digital sangat kecil, dan kegagalannya hampir tidak menjelaskan kelesuan kripto dalam jangka panjang.
Beberapa hambatan selanjutnya telah memperparah posisi pasar yang telah bearish. Pemegang saham dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin, salah satu cara paling umum bagi investor institusional maupun ritel AS untuk mendapatkan eksposur terhadap kripto, telah mengalami kerugian atas investasi mereka selama sebagian besar tahun ini, mengingat penurunan pasar.
“Kegagalan pemungutan suara Clarity merupakan katalisator penting yang spesifik bagi kripto, tetapi bukan satu-satunya pendorong aksi jual. Bitcoin sudah berada di bawah tekanan sebelum pemungutan suara Senat,” jelas Lacie Zhang, analis riset di Bitget Wallet.
“Harga bisa jadi akan bergerak dalam kisaran yang cukup sempit,” kata Adam McCarthy, kepala riset di perusahaan perdagangan LO:TECH, dilansir dari Bloomberg News, Jumat.
McCarthy memperkirakan Bitcoin dapat kembali memasuki tren turun hingga akhir tahun, “saat kita mengevaluasi kembali prospeknya,” tambah McCarthy. “Perubahan kebijakan kenaikan suku bunga ini merupakan pukulan ganda.”
Bitcoin masih jauh dari level terbaiknya yang sempat mencapai US$126.000-an pada kuartal ketiga 2025, bahkan dibandingkan setahun lalu mengalami minus 34%. Sementara sepanjang 2026 atau year-to-date (ytd) pelemahannya ada pada kisaran 12,4%.
Bagi pelaku pasar bertanya-tanya: jika kejelasan regulasi bukanlah penyelamat yang diharapkan industri ini, lalu apa?
(wep)





























