“Saya mengatakan, lakukan apa pun yang kamu mau,” kata Trump. “Itu tidak berpengaruh karena dia tidak memiliki cukup suara,” lanjutnya. “Sebagus apa pun pekerjaannya, dia menghadapi dewan yang bermusuhan.”
Meskipun Trump menyalahkan dewan yang menurutnya “sangat politis” atas kenaikan suku bunga, keputusan tersebut disetujui secara bulat. Keseluruhan dari 12 anggota mendukung kenaikan tersebut.
Pernyataan Trump menunjukkan bahwa untuk saat ini dia bersedia memberikan ruang gerak kepada gubernur The Fed yang dipilihnya, meskipun terus meningkatkan tekanan terhadap bank sentral untuk menurunkan biaya pinjaman. Situasi ini menciptakan dinamika yang rumit bagi Warsh ke depannya, meskipun Trump menegaskan dalam upacara pelantikannya bahwa dia ingin gubernur The Fed bersikap “sepenuhnya independen.”
Dalam unggahan di media sosial pada Rabu pagi, Trump mengatakan suku bunga AS “seharusnya 1% atau lebih rendah” karena “Negara kita sedang MENGALAMI LEDAKAN INVESTASI BARU” dan memiliki “Kredit Terbaik di Dunia.”
“SEGERA TURUNKAN SUKU BUNGA UNTUK AMERIKA SERIKAT!” tulisnya.
Menurunkan suku bunga ke level yang diinginkan Trump akan mengharuskan bank sentral melakukan pemangkasan besar. Langkah tersebut biasanya hanya dilakukan ketika terjadi krisis ekonomi yang parah.
Dalam unggahannya, Trump kembali berargumen bahwa suku bunga telah menempatkan AS pada posisi yang kurang kompetitif dibandingkan perekonomian negara lain. Dia mengaitkan hal tersebut dengan defisit perdagangan AS seraya mengatakan, “Kami ‘menanggung’ hampir setiap negara di dunia, dan hal itu tidak bisa terus berlanjut.”
Sebelumnya, Trump mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara mitra yang mencatat surplus perdagangan, kecuali The Fed menurunkan suku bunga. Namun, belum jelas bagaimana penerapan ancaman tersebut dapat menurunkan biaya pinjaman bagi masyarakat AS.
Kenaikan suku bunga pada Rabu, yang merupakan kenaikan pertama sejak 2023, terjadi ketika para pembuat kebijakan kehilangan keyakinan bahwa inflasi akan mereda dengan sendirinya. The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga setelah data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Agustus. Kenaikan harga energi akibat perang AS-Iran—yang kini telah memasuki bulan ketujuh—serta kebijakan tarif Trump turut memperumit prospek pencapaian target inflasi The Fed.
Dalam pernyataan setelah rapat, para pejabat The Fed menyebut inflasi masih tinggi, tetapi menggambarkan perekonomian secara positif. Mereka menyoroti pertumbuhan produktivitas dan investasi modal yang kuat, serta peningkatan lapangan kerja yang mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.
Dalam konferensi persnya, Warsh menyebut risiko geopolitik sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap inflasi. “Kita tidak bisa menghindari titik-titik konflik di seluruh dunia, dan penilaian kami mengenai situasi geopolitik mana yang paling mungkin atau paling tidak mungkin terjadi telah berubah,” katanya.
Warsh berjanji akan melindungi independensi The Fed, meskipun menghadapi tekanan yang semakin besar dari presiden yang frustrasi akibat memburuknya iklim politik di tengah masa jabatan Partai Republik. Para pemilih memberikan penilaian buruk terhadap Trump terkait perang di Iran dan perekonomian. Tingginya harga layanan kesehatan, perumahan, energi, dan bahan kebutuhan pokok menjadi isu utama menjelang pemilu November. Biaya pinjaman yang lebih rendah dapat membantu Trump dan anggota parlemen Partai Republik berargumen bahwa dorongan ekonomi akan segera terjadi, sekaligus membatasi dampak politik yang merugikan.
Trump sebelumnya bersikap keras terhadap pendahulu Warsh, mantan Gubernur The Fed Jerome Powell. Trump berulang kali mengecam Powell karena dianggap tidak cukup agresif dalam menurunkan suku bunga. Dia juga memberikan tekanan terhadap bank sentral melalui cara lain, termasuk berupaya memecat Deputi Gubernur The Fed Lisa Cook. Namun, langkah tersebut sejauh ini telah terhalang oleh Mahkamah Agung AS.
(bbn)


























