Logo Bloomberg Technoz

Yuana Sutyowati dan Jejak 38 Tahun Memberdayakan UMKM


CEO COOP Coffee Foundation, Yuana Sutyowati saat berbicara dalam Welcoming Dinner Women on The Move 2026 di Lombok, Jumat (11/9/2026).
CEO COOP Coffee Foundation, Yuana Sutyowati saat berbicara dalam Welcoming Dinner Women on The Move 2026 di Lombok, Jumat (11/9/2026).

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perjalanan kepemimpinan perempuan tidak selalu dibangun melalui jalur yang dirancang sejak awal. Bagi Chief Executive Officer (CEO) COOP Coffee Foundation Yuana Sutyowati, perjalanan karier selama hampir empat dekade di pemerintahan justru membawanya pada misi yang sama, yakni pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Yuana dalam sesi panel “Different Paths, One Purpose: Women Leading Change Across Industries” dalam gelaran Women On The Move 2026 yang diselenggarakan Bloomberg Technoz.

Yuana mengungkapkan sebagian besar perjalanan profesionalnya berlangsung di pemerintahan. Ia mengawali karier sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 1983 dan selama 37 tahun 8 bulan menjadi bagian dari Kementerian Koperasi dan UMKM.

“Perjalanan saya di government sebetulnya mendominasi dari perjalanan hidup saya selama 37 tahun 8 bulan. Saya menjadi representative of government di Kementerian Koperasi dan UMKM. Dan saya tidak pernah pindah, mulai dari CPNS tahun 1983,” ujar Yuana.

Ia menyebut pilihannya untuk mengabdi kepada masyarakat tidak sepenuhnya lahir dari perencanaan karier pribadi. Amanah keluarga menjadi salah satu nilai yang kemudian membentuk perjalanan profesionalnya.

“Nah, karena merupakan amanah dari kakek saya, jadilah pelayan masyarakat saja,” katanya.

Selama berada di pemerintahan, Yuana terlibat dalam berbagai program pemberdayaan UMKM, mulai dari pembiayaan hingga pengembangan usaha. Ia juga pernah memimpin Smesco Indonesia selama empat tahun delapan bulan.

“Saya memang mantan lurah Smesco, tapi selebihnya juga pemberdayaan UMKM dari sudut financing, pembiayaan, kemudian juga di hulu membina UMKM dan koperasi yang merupakan lembaga,” ujar dia.

Menurut Yuana, pengalaman tersebut membuatnya bersentuhan dengan ekosistem UMKM dari berbagai sisi, mulai dari komunitas produsen di hulu hingga pemasaran produk di hilir. Pengalaman lintas sektor itu kemudian menjadi bekal ketika ia melanjutkan kiprahnya di COOP Coffee Foundation.

“Manusia itu kan sebetulnya perjalanannya ada yang menonton. Saya merasa sebetulnya perjalanan hidup kita, karena saya pasti lebih lama kan hidup, itu tidak by design. Jujur, ini tidak ada yang by design pribadi,” tuturnya.

Ia menilai perjalanan tersebut lebih tepat dipandang sebagai sebuah panggilan untuk terus memberikan kontribusi. Pengalaman mendampingi pelaku UMKM juga membuatnya melihat kuatnya peran perempuan dalam perekonomian masyarakat.

“Nah, mungkin ini adalah panggilan,” kata Yuana.

Selama hampir 38 tahun, ia mengaku mendampingi pelaku UMKM melalui berbagai program dari hulu hingga hilir. Pengalaman tersebut mencakup komunitas UMKM, petani, pengrajin, hingga pengembangan pemasaran dan promosi produk.

Latar belakang pendidikan di bidang ekonomi pertanian turut memperkuat ketertarikannya pada sektor agribisnis. Yuana menyebut dirinya telah lama melihat pentingnya penciptaan nilai bagi komoditas pertanian Indonesia.

“Justru saya dengan latar belakang sebagai Sarjana Ekonomi Pertanian, kemudian mendalami management, saya memang sudah jatuh cinta dengan persoalan agrobisnis Indonesia, dan value yang harusnya diberikan,” ujar Yuana.

Menurut dia, pengalaman tersebut kemudian selaras dengan misi COOP Coffee Foundation sebagai organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam pemberdayaan.

“Setelah nyemplung di yayasan ya, karena kopi itu adalah NGO, non-government organization sebagai yayasan, yang misinya memang inline sih sebetulnya, itu pemberdayaan,” katanya.

Dalam menjalankan perannya di sektor kopi, Yuana membawa perspektif yang berbeda karena pernah berada di sisi regulator. Menurutnya, pengembangan industri komoditas membutuhkan keterhubungan antara kebijakan, petani, kualitas produk, dan kebutuhan pasar.

“Nah, karena saya mantan regulator, misalnya sekarang kan isu dari kopi itu, jujur sepintas saja, kami ini kan memberdayakan petani kopi grassroot, karena ini jadi sudah inline,” ucapnya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi kopi memiliki kemiripan dengan sejumlah komoditas pertanian lain, seperti kakao dan teh. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk yang pada akhirnya berkaitan dengan permintaan pasar.

“Karena kopi dan mungkin komoditi lain ya, ada coklat, ada teh, ini persoalan itu sebenarnya sama. Jadi dalam hal kualitas dan lain-lain, dan ini kan market driven,” ujar Yuana.

Bagi Yuana, kopi memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu komoditas yang memiliki daya tarik kuat di pasar global. Indonesia sendiri memiliki beragam kopi dengan karakteristik dan asal geografis yang berbeda.

“Dan kopi itu komoditi yang seksi di pasar dunia,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah daerah penghasil kopi Indonesia yang telah dikenal melalui indikasi geografis, seperti Kintamani di Bali, Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Bajawa di Nusa Tenggara Timur, hingga Java Preanger di Jawa Barat.

“Nah, persoalannya itu kopi Indonesia dengan lebih dari 48 indikasi geografis ya, nah itu kan diminati,” tutur Yuana.

Melalui COOP Coffee Foundation, pengalaman panjangnya di pemerintahan kemudian dipadukan dengan pendekatan pemberdayaan di tingkat akar rumput. Bagi Yuana, perjalanan profesional lintas sektor pada akhirnya tetap bermuara pada tujuan yang sama, yakni menciptakan kontribusi dan perubahan bagi masyarakat.

Perspektif tersebut sejalan dengan semangat Women On The Move 2026 yang mengangkat kepemimpinan, kolaborasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan perempuan melalui pertemuan tokoh dari pemerintahan, dunia usaha, profesional, dan komunitas.