“Untuk penurunan produksi tidak terjadi karena stok bauksit yang sudah ada di site masih mencukupi untuk produksi normal,” tegas Dindin.
Dihubungi secara terpisah, Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam Wisnu Danandi Haryanto menegaskan perseroan terus memantau kondisi cuaca dan dinamika muka air di wilayah operasional UBP Bauksit Kalimantan Barat.
Wisnu mengamini kondisi penurunan muka air pada jalur transportasi sungai dapat memengaruhi kegiatan pengangkutan bauksit, terutama terkait penyesuaian kapasitas muatan dan jadwal pengiriman melalui jalur air.
“Antam juga melakukan penyesuaian operasional dan pengaturan logistik untuk meminimalkan dampak terhadap kegiatan pengiriman,” kata Wisnu ketika dihubungi, Selasa (15/9/2026).
“Antam akan terus memastikan kegiatan operasional dan pengiriman dilakukan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.
Sebelumnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memastikan operasional fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tetap berjalan lancar di tengah ancaman kemarau karena El Niño.
Chief Financial Officer (CFO) Inalum Ken Permana menjelaskan perusahaan tetap menerima pasokan alumina secara normal untuk diproses menjadi aluminium di pabrik peleburan aluminium smelter Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara.
Inalum memanfaatkan moda transportasi laut dari Pelabuhan Kijing menuju Kuala Tanjung. Langkah ini dinilai efektif untuk memitigasi dampak kekeringan akibat El Niño yang sering kali memicu penyusutan volume air sungai.
“Untuk smelter kita di Sumut, alumina dikirim lewat laut dari Mempawah ke Kuala Tanjung via Pelabuhan Kijing," pungkas Ken kepada Bloomberg Technoz, Jumat (11/9/2026).
Selain itu, distribusi bijih bauksit sebagai bahan baku alumina dari Antam menuju fasilitas refinery di Mempawah juga dipastikan bebas dari kendala.
Pengangkutan bauksit dari area hulu tersebut dilakukan melalui jalur darat (hauling road), sehingga penurunan debit air sungai tidak memengaruhi pasokan.
"Langkah antisipatif terkait dengan surutnya sungai yang berdampak pada transportasi dan distribusi sebetulnya bukan jadi main issue, mengingat nanti suplai bauksit dari lokasi yang dihubungkan dengan hauling road kita atau nonsungai," ujar Ken.
Sekadar informasi, Shanghai Metals Market (SMM) melaporkan penurunan tingkat air di Indonesia telah memengaruhi pengiriman dari beberapa tambang bauksit, bahkan berpotensi menyebabkan gangguan produksi alumina jika situasi tidak membaik.
Kendati begitu, SMM memang tak menegaskan apakah pengiriman bauksit yang terhambat terjadi di tambang di wilayah Kalimantan atau bukan.
“Menurut sumber-sumber, tingkat air di Indonesia saat ini rendah dan telah memengaruhi pengiriman dari beberapa tambang bauksit di dalam negeri, yang berpotensi menyebabkan gangguan pada produksi alumina jika situasi tidak membaik,” tulis SMM.
Berdasarkan penelusuran, terdapat sejumlah tambang bauksit yang berada di pesisir sungai Kapuas, antara lain; UBP Bauksit Kalimantan Barat Antam, PT Bintang Tayan Mineral, serta PT Kapuas Bara Mineral.
UBP Bauksit Kalbar Antam memiliki izin usaha pertambangan (IUP) seluas 34.360 ha. Hasil bijih bauksit dari tambang tersebut diolah oleh anak perusahaan Antam yakni PT Indonesia Chemical Alumina.
Trendasia juga mencatat hasil pertambangan bauksit tersebut dikirim ke smelter grade alumina refinery (SGAR) 1 milik PT BAI.
Adapun, PT BAI dikendalikan oleh kongsi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dengan kepemilikan saham 60% dan dan Antam sebesar 40%.
PT BAI mengoperasikan SGAR berkapasitas 1 juta ton per tahun di Mempawah, Kalimantan Barat.
Inalum sendiri menargetkan ekspor alumina dari SGAR Mempawah mencapai sekitar 350.000 ton-400.000 ton tahun depan.
Rencana ekspor itu mengambil porsi sekitar 40% dari keseluruhan kapasitas produksi alumina SGAR Mempawah sebesar 1 juta ton.
(azr/wdh)




























