Portofolio Grup Djarum juga mencakup sektor infrastruktur telekomunikasi melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Sementara di sektor elektronik dan kendaraan listrik, keluarga Hartono mengembangkan Polytron melalui PT Hartono Istana Teknologi.
Ekspansi juga merambah sektor kesehatan. Pada Juni 2025, PT Dwimuria Investama Andalan yang terafiliasi dengan Grup Djarum membeli 559,19 juta saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) atau sekitar 3,63% saham. Transaksi tersebut bernilai sekitar Rp1,05 triliun.
Dengan kepemilikan tersebut, Djarum menjadi pemegang saham minoritas di HEAL, bukan pengendali. Masuknya Dwimuria ke HEAL menambah eksposur Grup Djarum ke sektor kesehatan sekaligus memperluas portofolio investasinya di emiten Bursa Efek Indonesia.
Di sektor konsumsi, Grup Djarum juga pernah dikabarkan mengakuisisi 85% saham pengelola Bakmi GM. Namun, transaksi tersebut belum memiliki konfirmasi resmi dari Grup Djarum. Saat kabar akuisisi mencuat pada 2024, perusahaan hanya meminta informasi tersebut dikonfirmasi kepada manajemen Bakmi GM.
Di luar bisnis yang terhubung dengan pasar modal domestik, keluarga Hartono juga memiliki portofolio properti, agribisnis, serta bisnis olahraga. Salah satunya adalah Como 1907, klub sepak bola Italia yang diakuisisi melalui SENT Entertainment pada 2019 dan kemudian kembali ke Serie A pada 2024.
Dengan ekspansi tersebut, diversifikasi Grup Djarum kini mencakup digital dan media, ritel, telekomunikasi, elektronik, kesehatan, F&B, properti, agribisnis hingga olahraga, di samping bisnis utama rokok dan kepemilikan pengendali di Bank Central Asia (BBCA).
Bagi pasar modal, ekspansi tersebut membuat portofolio keluarga Hartono tidak hanya terefleksi melalui BBCA, tetapi juga melalui sejumlah emiten lain yang terafiliasi dengan kelompok usaha tersebut, termasuk BELI, TOWR, RANC dan HEAL. Pergerakan Grup Djarum di sektor non-rokok pun menjadi bagian dari strategi diversifikasi aset keluarga Hartono di tengah perubahan prospek sejumlah industri.
(dhf)






























