Iran—yang dikenai sanksi berat oleh AS dan menghadapi serangan selama lebih dari enam bulan—merupakan salah satu anggota BRICS yang paling bersemangat memosisikan kelompok ekonomi berkembang ini sebagai penyeimbang tatanan ekonomi dan politik yang dipimpin oleh AS.
Namun, ketegangan yang meningkat dengan anggota lain, khususnya Uni Emirat Arab (UEA), mempersulit upaya untuk mencapai kesepakatan sikap bersama dalam pertemuan di New Delhi tersebut.
Pertempuran di seluruh Timur Tengah telah memanas dalam beberapa pekan terakhir. AS meningkatkan serangan terhadap kapal tanker minyak Iran belakangan ini sebagai tanggapan atas serangan rudal Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS.
Sementara itu, bentrokan antara milisi Houthi yang didukung Iran dan pasukan yang didukung Arab Saudi di Yaman juga kembali meningkat. Meluasnya konflik ini telah mendorong harga minyak acuan mendekati angka US$107 per barel.
Pezeshkian mengadakan pertemuan empat mata dengan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Jumat, menjelang KTT yang berlangsung akhir pekan ini.
Kedua pemimpin membahas konflik AS-Iran, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri India.
Modi menegaskan kembali seruan New Delhi agar perselisihan diselesaikan melalui dialog, sembari menekankan pentingnya menjaga perdamaian kawasan, kebebasan navigasi dan perdagangan, serta keselamatan para pelaut.
UEA, yang bergabung dengan BRICS bersama Iran pada 2024, telah berulang kali menjadi sasaran serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran selama konflik berlangsung, yang mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur energi dan bandara.
Sebagai tanggapan, UEA memutuskan hubungan ekonomi dengan Iran—mitra dagang lamanya—pada Agustus.
Ketegangan tersebut sempat mencuat dalam pertemuan menteri luar negeri BRICS pada Mei, ketika Iran berselisih dengan UEA dan mendesak kelompok tersebut untuk mengutuk serangan gabungan AS-Israel.
Perbedaan pendapat tersebut memicu kebuntuan yang membuat kelompok itu tidak dapat menyepakati pernyataan bersama.
Menjelang pertemuan para pemimpin, perbedaan pandangan mengenai rumusan pernyataan bersama terkait perang di Timur Tengah sempat berlanjut, namun kesenjangan tersebut telah menyusut setelah adanya diskusi yang konstruktif.
Hal ini disampaikan oleh sejumlah pihak yang mengetahui masalah tersebut, tetapi meminta agar identitas mereka tidak diungkapkan karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara secara terbuka mengenai hal ini.
Mereka juga menyebutkan bahwa negosiasi telah mengalami kemajuan di berbagai bidang lain yang lebih luas, termasuk kesehatan, pendidikan, budaya, dan teknologi.
Kementerian Luar Negeri India tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Dalam KTT akhir pekan ini, Iran berupaya menangkal tekanan ekonomi yang kian meningkat dari AS dengan cara mendorong perdagangan nondolar dan memperkuat hubungan diplomatik.
Washington telah memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia—yang secara drastis memangkas ekspor minyak—serta menekan negara-negara lain untuk memutus sisa-sisa hubungan dagang mereka dengan Teheran.
Tekanan ini telah memicu kelangkaan berbagai produk, termasuk bensin, serta menyebabkan inflasi di atas 80% dan nilai mata uang yang berulang kali jatuh ke rekor terendah.
"Tujuan kami di BRICS adalah melawan unilateralisme Amerika," ujar Pezeshkian di televisi pemerintah sebelum bertolak dari Teheran.
"Investasi di New BRICS Development Bank akan dilakukan secara bersama-sama, tanpa bergantung pada dolar AS."
Iran yang Terisolasi
Kunjungan ini merupakan lawatan pertama presiden Iran ke India dalam kurun waktu lebih dari delapan tahun.
Kedua pihak telah lama menjalin hubungan yang harmonis, meskipun perang AS-Israel yang dilancarkan terhadap Iran pada Februari telah mengganggu jalur pasokan energi serta akses jangka panjang India terhadap pasokan yang melewati Selat Hormuz.
India dan Iran berupaya mendiversifikasi hubungan dagang mereka, sebagaimana disampaikan Modi dalam pertemuan dengan Pezeshkian di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan pada bulan Agustus.
Upaya tersebut bisa jadi menemui kendala akibat langkah New Delhi untuk memperbaiki hubungannya dengan Washington yang sempat merenggang setelah lebih dari setahun diliputi ketegangan terkait tarif.
Iran memiliki dua sekutu alami di dalam kelompok ini yang kemungkinan besar akan memberikan dukungan penuh: China dan Rusia.
China, yang sejauh ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar dalam kelompok tersebut, telah menjadi penopang ekonomi bagi Iran dengan membeli minyak ekspor Iran dalam jumlah besar. Sementara itu, Rusia tetap menjadi mitra keamanan yang penting bagi Teheran.
(bbn)






























