Selain itu, distribusi bijih bauksit sebagai bahan baku alumina dari PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam menuju fasilitas refinery di Mempawah juga dipastikan bebas dari kendala.
Pengangkutan bauksit dari area hulu tersebut dilakukan melalui jalur darat (hauling road), sehingga penurunan debit air sungai tidak memengaruhi pasokan.
"Langkah antisipatif terkait dengan surutnya sungai yang berdampak pada transportasi dan distribusi sebetulnya bukan jadi main issue, mengingat nanti suplai bauksit dari lokasi yang dihubungkan dengan hauling road kita atau nonsungai," ujar Ken.
Ken juga memberikan jaminan seluruh rangkaian kegiatan penambangan hingga proses produksi alumina saat ini berjalan dalam kondisi normal.
"So far, lokasi sumber bauksit milik Antam yang feed ke refinery kita tidak ada kendala, sehingga pasokan alumina kita juga masih normal," tuturnya.
Melalui integrasi rantai pasok tersebut—dari pengangkutan bauksit via jalur darat di Kalimantan Barat hingga pengiriman alumina via jalur laut ke Sumatra Utara—Inalum optimistis produksi di Smelter Kuala Tanjung akan terus terjaga secara konsisten.
Sebelumnya, surutnya permukaan air Sungai Kapuas di Kalimantan Barat akibat fenomena El Niño telah memicu gangguan pada jalur distribusi logistik tambang bauksit domestik hingga berdampak pada produksi alumina.
Laporan dari Shanghai Metal Market (SMM) pada Rabu (9/9/2026) mengonfirmasi bahwa rendahnya volume air sungai menghambat proses pengangkutan bahan mentah tersebut.
Kendala transportasi air ini berdampak langsung pada kelancaran operasional pengiriman dari area pertambangan menuju fasilitas pengolahan.
“Permukaan air di Indonesia rendah dan telah memengaruhi pengiriman beberapa tambang bauksit domestik, yang dapat menyebabkan gangguan pada produksi alumina jika situasi tidak membaik,” ungkap SMM dalam laporannya.
SMM mencatat bahwa fenomena penurunan permukaan air di wilayah tersebut masih berlangsung hingga saat ini tanpa kepastian kapan akan mereda.
Para sumber di industri pertambangan belum dapat memprediksi akhir dari gangguan cuaca dan lingkungan ini. Ketidakpastian situasi ini menambah potensi gangguan pasokan jangka panjang pada rantai pasok industri aluminium domestik maupun global.
“Hingga saat ini, situasi masih berlanjut dan diperkirakan terus berlangsung tanpa batas waktu,” tambah SMM.
Adapun, Kabupaten Sanggau dan wilayah sekitarnya di Kalimantan Barat merupakan salah satu penghasil bauksit terbesar di Indonesia, dengan Sungai Kapuas sebagai urat nadi utama pendistribusiannya.
Selain pilihan pengangkutan darat, Sungai Kapuas menyediakan sarana logistik alami yang sangat efisien, memungkinkan tongkang-tongkang besar mengangkut bijih bauksit mentah langsung dari area tambang darat menuju pelabuhan muat atau kilang pengolahan (smelter).
Di sisi lain, Kalimantan Barat merupakan jantung dari industri bauksit di Indonesia karena memiliki cadangan bijih bauksit terbesar dan kualitas terbaik di Tanah Air.
Wilayah-wilayah seperti Tayan di Kabupaten Sanggau, Landak, hingga Mempawah menjadi pusat penambangan dan pengolahan bahan mentah ini.
Dalam mendukung ekosistem hilirisasi tersebut, BUMN sektor pertambangan di bawah naungan BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID—yaitu PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)—membentuk usaha patungan bernama PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI).
Kolaborasi ini berfokus pada pembangunan serta pengoperasian fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Melalui integrasi ini, pasokan bijih bauksit yang ditambang dari konsesi milik Antam disalurkan secara langsung ke pabrik SGAR untuk diolah menjadi alumina.
Integrasi industri bauksit, alumina, hingga aluminium di Kalimantan Barat ini menjadi pilar strategis bagi kemandirian material nasional.
Produk alumina yang dihasilkan oleh fasilitas SGAR Mempawah dikirimkan ke smelter milik Inalum untuk diproses lebih lanjut menjadi aluminium ingot, billet, dan alloy.
Dengan terhubungnya rantai pasok dari hulu (tambang bauksit Antam) ke antara (smelter alumina PT BAI) hingga ke hilir (peleburan aluminium Inalum), Kalimantan Barat berhasil memperkuat posisinya sebagai hub utama hilirisasi mineral dan rantai nilai aluminium nasional.
(smr/wdh)



























