Dengan demikian, setiap penambang seharusnya sudah memiliki strategi khusus untuk mempertahankan volume produksi.
Meskipun dampak kekeringan tidak dapat dihindari sepenuhnya, lanjut Ronald, langkah mitigasi yang tepat diharapkan mampu meminimalkan potensi kerugian operasional.
“Inovasi masing-masing penambang, itu wajib hukumnya. Supaya kita tidak terjadi stagnasi ya. Begitu ada bencana atau begitu ada keadaan kahar bisa kita antisipasi sebelumnya,” tambahnya.
Daur Ulang
Selain penyediaan tandon penampungan air, penerapan teknologi daur ulang (water recycling) di fasilitas pencucian bauksit menjadi salah satu langkah mitigasi kunci.
Dengan mengolah kembali air sisa pencucian bauksit melalui sistem pengendapan yang efektif, penambang dapat menekan konsumsi air bersih dari sumber alam secara signifikan.
Hal ini memungkinkan operasional pabrik pengolahan tetap berjalan stabil meskipun pasokan air dari sungai atau sumber air permukaan menyusut drastis.
Di samping efisiensi pengelolaan air, Ronald mengatakan pelaku industri bauksit perlu memperkuat perencanaan operasional berbasis data prakiraan cuaca terkini dari badan meteorologi.
Penyesuaian jadwal penambangan dan pembersihan cadangan material (stockpile) pada periode puncak kekeringan dapat mencegah terjadinya penumpukan beban kerja operasional.
Efisiensi ini memastikan pasokan bahan baku ke fasilitas pemurnian (smelter) tetap terjaga tanpa memicu pembengkakan biaya operasional akibat krisis air.
Terakhir, kolaborasi antarpenambang dan pemerintah daerah dalam menjaga daerah resapan air di sekitar wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) menjadi krusial untuk jangka panjang.
Penghijauan kembali area pascatambang secara konsisten serta pembuatan embung penampung air hujan (rainwater harvesting) dinilai dapat membantu mitigasi dampak El Niño bagi perusahaan-perusahaan di sektor hulu.
“Jadi untuk menjaga ketersediaan sumber daya air bagi ekosistem dan masyarakat di sekitar area pertambangan juga,” jelasnya.
Sebelumnya, fenomena El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan di Kalimantan membawa dampak signifikan terhadap operasional sektor pertambangan.
Komoditas tambang batu bara, misalnya, melaporkan salah satu kendala terbesar terletak pada jalur logistik pengangkutan hasil tambang.
Menurunnya debit air sungai-sungai utama seperti Sungai Mahakam, Sungai Barito dan Sungai Kapuas membuat tongkang pengangkut batu bara kesulitan berlayar.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan kekeringan yang melanda tiga sungai besar di Kalimantan telah berdampak langsung pada pengangkutan batu bara, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah bagian atas.
Ketua Umum APBI Priyadi Sutarso menjelaskan pendangkalan air sungai secara signifikan merintangi proses distribusi karena tongkang tidak dapat melintas.
"Mahakam, Sungai Barito kandas, Sungai Kapuas juga iya,” ungkap Priyadi ditemui usai agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).
Priyadi mengonfirmasi ketiga jalur perairan ini mengalami penurunan debit air yang parah secara bersamaan.
Terhambatnya arus lalu lintas sungai tersebut dipastikan mengganggu stabilitas pengiriman batu bara, baik untuk kebutuhan operasional domestik maupun aktivitas ekspor.
Menurut Priyadi, gangguan ini tidak terhindarkan mengingat jalur perairan merupakan satu-satunya sarana transportasi logistik batu bara yang tersedia di wilayah tersebut.
“Iya, pasti terpengaruh. Ada beberapa yang produksi jalan terus, ada juga beberapa perusahaan yang memang sudah memilih untuk berhenti beroperasi,” ungkapnya.
Meski begitu, pihak APBI mengaku belum dapat memberikan angka pasti mengenai total kerugian logistik tersebut.
(azr/wdh)






























