Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, yang dikompilasi Sxcoal, ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 turun 23,34% secara tahunan menjadi 36,1 juta ton, dari capaian tahun sebelumnya sebesar 47,09 juta ton.
Secara bulanan, ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 turun 6,54% dari besaran Juli 2026 sebanyak 38,62 juta ton.
Ekspor batu bara melalui laut sepanjang Januari—Agustus mencapai 302 juta ton atau turun 4,51% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, pengiriman ke China mencapai 116 juta ton atau turun 2,73%.
Sxcoal melaporkan penurunan ekspor batu bara Indonesia dipengaruhi ketidakpastian kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, serta terhambatnya ekspor gegara sungai yang dilalui tongkang surut di Kalimantan.
“Selain ketidakpastian kebijakan, pasokan pada Agustus juga terkendala oleh rendahnya ketinggian air sungai akibat kekeringan,” tulis Sxcoal dalam laporannya.
“Ketinggian air di Sungai Barito turun menjadi 3—4 meter dari biasanya 8—18 meter, memaksa tongkang untuk mengurangi muatan hingga setengahnya. Beberapa bagian sungai menjadi tidak dapat dilayari, sehingga mendorong beberapa produsen untuk menyatakan force majeure,” tegasnya.
Berdasarkan negara tujuannya, Sxcoal mencatat ekspor batu bara Indonesia ke Asia pada Agustus 2026 mencapai 35,83 juta ton atau turun 23,66% secara tahunan dan turun 6,59% secara bulanan.
Ekspor ke Asia mengambil porsi sekitar 99,3% dari total ekspor yang dilakukan Indonesia. Sxcoal mencatat China tetap menjadi pengimpor batu bara Indonesia terbesar pada Agustus 2026, dengan volume sebesar 14,47 juta ton.
Ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 ke China turun 30,78% secara tahunan menjadi 14,47 juta ton, namun naik tipis 1,26% dibandingkan dengan Juli 2026.
Sxcoal mencatat ekspor batu bara Indonesia ke India pada Agustus 2026 mencapai 7,1 juta ton atau turun 15,83% secara tahunan, tetapi naik 12,01% secara bulanan.
Kemudian, ekspor batu bara Indonesia ke Filipina pada Agustus 2026 mencapai 2,69 juta ton atau turun 18,1% secara tahunan dan turun 26,38% secara bulanan.
“Filipina sangat bergantung pada impor batu bara dari Indonesia. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di negara tersebut tetap stabil secara tahunan sepanjang 2026, sehingga permintaan impor tetap stabil meskipun dalam skala yang moderat,” ungkap Sxcoal.
Sementara itu, ekspor batu bara ke Malaysia pada Agustus 2026 mencapai 2,2 juta ton atau naik 28,52% secara tahunan dan naik 4,91% secara bulanan.
Selanjutnya, ekspor batu bara pada Agustus 2026 menuju Vietnam mencapai 2,07 juta ton atau naik 28,6% secara tahunan, tetapi turun 21,58% dibandingkan bulan sebelumnya.
Adapun, sejumlah sungai di Kalimantan yang digunakan tongkang batu bara mengangkut hasil produksi tambang dari jetty ke kapal induk mengalami penurunan debit air. Kondisi tersebut terjadi di sungai Mahakam, Kapuas, dan Barito.
Asosiasi Pertambangan batu bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa surutnya sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara, bahkan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan hingga kini asosiasinya masih belum dapat mengestimasi volume ekspor batu bara yang pengirimannya terhambat akibat surutnya sungai Mahakam.
Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa penurunan debit air di sungai Mahakam membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan.
“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Di sungai Mahakam, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton.
Mursidi menjelaskan, dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara.
Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran sebab debit air mengalami penyusutan.
“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
Sementara di sungai Barito, Argus Media melaporkan terjadi penurunan kedalaman sungai Barito yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Adapun, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan surutnya sungai Barito akibat El Niño diperkirakan menyebabkan pengiriman sekitar 3,9 juta ton batu bara terhambat dalam satu bulan.
Ketua Komite Pertambangan Minerba Apindo Hendra Sinadia menegaskan belum menerima laporan perusahaan yang mengumumkan keadaan kahar atau wanprestasi.
“Info yang saya dapat dari perusahaan anggota, dampak dari mulai suratnya hulu sungai Barito mengganggu shipment yang diperkirakan sekitar 3,9 juta ton dalam sebulan,” kata Hendra ketika dihubungi, Senin (7/9/2026).
(azr/wdh)































