September Dikebut
Agung menjelaskan perseroan bakal mengebut proses perampingan lini usaha pada bulan ini, agar proses tersebut dapat dilakukan pada total 48 perusahaan.
“Kami lakukan catch up pada kuartal III, jadi target di September kita mencapai total 48 perusahaan untuk di-streamline,” ungkapnya.
Adapun, perseroan merampingkan lini usaha paling besar di sektor hulu migas dengan hanya menyisakan satu entitas. Pertamina disebut telah memangkas sekitar 139 anak usaha di sektor tersebut.
Sebelumnya, Pertamina resmi melakukan aksi penggabungan atau merger anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni PT Pertamina Energy Terminal (PET) ke subholding hilir PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Dalam prosesi tersebut ditandatangani dua dokumen akta, yakni akta penggabungan oleh Direktur Utama PT PPN Mars Ega Legowo Putra dan Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal (PET) Bayu Prostiyono.
Kemudian, penandatanganan akta perubahan anggaran dasar PPN, di hadapan Notaris Jose Dima. Adapun, penggabungan tersebut berlaku efektif pada Selasa (1/9/2026).
“Apa yang kita tandatangani hari ini adalah komitmen bersama untuk membangun bisnis hilir yang tidak hanya terintegrasi secara struktural, tetapi juga andal, kompetitif, dan berkeadilan,” ujar Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri melalui siaran pers yang dilansir, Selasa (1/9/2026).
Simon menyatakan penggabungan tersebut dilakukan sesuai dengan arahan BPI Danantara. Untuk itu, dia meminta seluruh jajaran menjaga tata kelola dan kejelasan peran di subholding hilir, serta memastikan transisi berjalan mulus tanpa mengganggu operasional.
Adapun, penggabungan PET ke PPN merupakan kelanjutan dari restrukturisasi bisnis hilir tahap pertama yang berlaku efektif pada 1 Februari 2026.
Kala itu, aksi restrukturisasi mencakup penggabungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan 10 SPV anak perusahaan PT PIS ke PPN, serta pengalihan armada kapal captive PIS ke PPN.
Sebelumnya, Pertamina mengungkapkan proses penggabungan lini bisnis hilir perseroan baru rampung secara menyeluruh pada Oktober 2026, meskipun tiga anak usaha perusahaan sudah dilebur mulai 1 Februari 2026.
Dalam kesempatan sebelumnya, Simon menyatakan terdapat beberapa segmen bisnis PT Pertamina International Shipping yang masih dalam proses penggabungan hingga ditarget rampung menyeluruh pada Oktober 2026.
“Subholding downstream ini sudah go live sejak 1 Februari 2026, dan pengukuhan pengurusnya pada 4 Februari 2026," kata Simon dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VI DPR, dikutip Kamis (12/2/2026).
Simon menjelaskan dalam penggabungan awal tahun ini, bisnis non-captive PT PIS belum dilebur ke dalam subholding lini hilir tersebut.
Dia menargetkan seluruh proses penggabungan bisnis non-captive PT PIS dapat rampung pada Oktober 2026.
"Masih ada PT Pertamina International Shipping masih ada, karena yang masuk ke subholding downstream ini baru yang captive market," ungkap Simon.
Sekadar catatan, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bakal kembali menutup sekitar 700 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga 31 Desember 2026, setelah sebelumnya telah menutup sekitar 290 perusahaan pelat merah
Kepala Negara menyatakan, BUMN yang ditutup merupakan perusahaan yang tidak menguntungkan, tidak memiliki kinerja baik, hingga merugi.
Dia menargetkan jumlah BUMN yang ada di Indonesia bakal menjadi 250 perusahaan, usai penutupan tersebut dilakukan.
“Dalam kurang dua tahun pemerintah yang saya pimpin kita telah menutup 290 BUMN yang tidak menguntungkan, yang tidak berkinerja baik, yang rugi, kita tutup,” kata Prabowo dalam penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, ditayangkan secara daring, Senin (31/8/2026).
“Pemerintah yang saya pimpin, 31 Desember 2026, kami akan menutup paling sedikit 700 lagi, mungkin nanti tinggal 250 BUMN,” tegas Kepala Negara.
(azr/wdh)






























