Bernardus mengatakan kondisi tersebut membuat perusahaan perlu menyeimbangkan antara kepentingan pemegang saham dengan kebutuhan pendanaan ekspansi. Terlebih, INCO saat ini tengah mengerjakan sejumlah proyek pertumbuhan yang membutuhkan belanja modal besar.
Salah satunya adalah proyek high pressure acid leach (HPAL) Pomalaa yang saat ini memasuki tahap commissioning. Perusahaan menargetkan fasilitas tersebut mulai melakukan first feed sekitar 15 September 2026 dan dapat mencapai produksi penuh sebesar 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) pada 2027.
Selain Pomalaa, INCO juga mengembangkan proyek HPAL Bahodopi serta proyek pertumbuhan lainnya. Penyelesaian proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus melakukan diversifikasi produk nikel.
Di sisi lain, manajemen juga menekankan pentingnya menjaga likuiditas karena perusahaan masih membutuhkan dana untuk membiayai ekspansi. INCO menyebut penarikan pinjaman akan dijaga serendah mungkin dibandingkan rencana sebelumnya.
“Liquidity is important karena kita spending significant capex,” kata Bernardus.
Dengan kondisi tersebut, ruang pembagian dividen akan terus ditinjau sejalan dengan kebutuhan investasi dan perkembangan kinerja perusahaan.
Bernardus sebelumnya menyebut perseroan menargetkan cash cost berada di bawah US$10.000 per ton, sementara perusahaan tetap perlu menjaga posisi likuiditas di tengah pelaksanaan proyek-proyek ekspansi.
Adapun terkait dividen, manajemen belum menetapkan besaran maupun kepastian pembagian dividen untuk 2026. Keputusan akan bergantung pada evaluasi kondisi perusahaan dan kebutuhan pendanaan ekspansi.
(fik/roy)

































